Tampilkan postingan dengan label Dewatara Balaseta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dewatara Balaseta. Tampilkan semua postingan

Rabu, 13 April 2016

Bagian II: Anak Perantara

Alila, ibu Dewa, meminta ayahnya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dia merasa, ada sesuatu yang perlu diketahui terkait anaknya.

“Tidak ada apa-apa, Anakku,” ayahnya menjawab singkat.

“Lalu, apa maksud kata-kata Ayah tadi?”

“Tidak ada maksud apa pun,” kata Ayahnya yang kemudian berjalan ke dapur. Kemudian terdengar bunyi benturan gelas dan suara air yang dituang dari teko.

Sambil menahan rasa gelisah, Alila menunggu ayahnya kembali ke ruang ibadah. Alila hafal betul gelagat ayahnya. Ayahnya tidak mungkin menjawab sesingkat itu dan meninggalkannya begitu saja sebelum pembicaraan benar-benar selesai jika memang tidak ada yang disembunyikannya.

“Ayah, aku bangga kepada Ayah yang bisa membesarkanku sejak umur 12 tahun,” kata Alila begitu ayahnya kembali ke ruang ibadah. “Tapi apakah Ayah mau menghancurkan kebanggaanku kepada Ayah hanya karena masalah ini? Ayah, aku mohon, katakanlah. Apa yang sebenarnya terjadi pada anakku, Yah?”

Ayahnya menarik napas panjang. Setelah sempat menatap mata Alila selama beberapa saat, Akhirnya dia mau bicara.

“Begini, Alila. Sebenarnya ada yang aku rahasiakan dari dirimu tentang keluarga kita,” kata ayahnya mengawali pembicaraan.

“Maksud Ayah?”

“Sebenarnya, kau dilahirkan untuk tidak perlu mengetahui rahasia ini. Tapi aku rasa, tidak ada salahnya jika aku memberitahukanmu hal ini sekarang.”

Alila mengernyitkan dahinya. Tatapan tajamnya tertuju kepada ayahnya.

“Tadinya, kupikir, aku bisa mengubah takdir. Akan tetapi, aku tak bisa mengubah apa yang seharusnya terjadi,” kata ayahnya melanjutkan.

Alila masih diam menatap ayahnya.

“Dulu, ketika hanya ada satu daratan dan satu lautan. Ketika dunia benar-benar sepi. Ketika dunia hanya dihuni oleh sepasang manusia. Dan, ketika hanya ada satu setan yang menggoda. Ya, itulah waktu ketika Adam dan Hawa baru saja terusir dari surga. Itulah waktu, ketika Tuhan baru saja mengabulkan permintaan Iblis untuk terus menggoda manusia dan keturunannya hingga kiamat.

Kita semua tahu bahwa Adam dan Hawa terpisah jauh di bumi ketika diturunkan. Tapi apakah kau tahu sebelum bertemu Hawa, Adam sempat bertarung dengan Iblis?”

Alila terdiam. Dia hanya menggeleng tanpa mengeluarkan suara apa pun. Telinganya fokus menyimak, dan matanya tak pernah lepas memandang ayahnya.

“Sebenarnya,” kata ayahnya kembali bercerita, “Adam yang baru saja jatuh ke bumi langsung menantang Iblis. Iblis menerima Adam. Seketika itu juga, Iblis langsung menghajar Adam. Pertarungan pun tak bisa terhindarkan. Bertahun-tahun lamanya pertarungan itu berlangsung; tanpa henti, tanpa istirahat, dan tanpa ada yang menyerah. Bagi mereka, hanya ada satu tujuan yang pasti; menang! Tak ada yang berani memisahkan mereka. Bahkan para malaikat pun hanya bisa berdoa agar pertarungan itu segera diakhiri.

Akhirnya, pertarungan berakhir ketika Adam diberikan sebuah pedang dari surga. Pedang yang dijatuhkan dari langit itu mampu menebas tanduk, sayap, dan ekor Iblis. Iblis sekarat. Dia tak berdaya. Kekuatannya pun melemah. Kemudian, Iblis melarikan diri dari pertarungan. Setelah pertarungan selesai, barulah Adam mencari Hawa.”

“Lalu, apa hubungan cerita ini dengan keluarga kita, Ayah? Bukankah seluruh manusia adalah keturunan Adam?”

“Kau benar. Setelah peperangan itu, Adam dan Hawa bertemu hingga akhirnya banyak memiliki anak. Yang kita ketahui, semua anak Adam lahir kembar. Namun sebenarnya, ada satu anak yang lahir tanpa memiliki kembaran. Anak inilah yang kemudian dihasut oleh Iblis untuk membunuh Adam. Anak itu adalah Dajjal.”

“Dajjal? Bukankah Dajjal adalah makhluk yang bangkit pada hari akhir?” tanya Alila heran.

“Itu kata kuncinya! ‘Bangkit’. Bukan diciptakan pada hari akhir, kan? Kaum setan membutuhkan kemampuan Dajjal untuk menguatkan kerajaan mereka. Dajjal punya keahlian yang baik dalam menghasut, kau tahu dari mana kekuatannya berasal?”

Alila tak menjawab sepatah kata pun.

“Iblis. Dajjal diberikan keahlian itu untuk menghasut saudara-saudaranya menjadi pengikut Iblis. Dajjal juga yang menghasut saudara-saudaranya untuk membunuh ayah mereka. Semua kata yang keluar dari mulut Dajjal seakan sebuah kebenaran. Itu sebabnya, hampir setengah dari seluruh anak Adam, terhasut oleh Dajjal.”

“Setengah keturunan?” Alila terperangah.

“Ya. Mereka bersekongkol membunuh ayahnya sendiri. Bayangkan, betapa busuknya mereka. Sayang, hanya sedikit anak Adam yang mengetahui pembunuhan itu. Yang lainnya, hanya tahu bahwa ayahnya mati dimakan binatang buas.

Mereka yang mengetahui pembutuhan itu akhirnya memusuhi Dajjal. Mereka menyadari bahwa Dajjal hanyalah seorang pembohong besar yang tega membunuh ayahnya sendiri. Mereka kemudian berniat menyingkirkan Dajjal. Mereka tahu, Dajjal adalah kaki tangan Iblis. Mereka yang memusuhi Dajjal, dikenal dengan Kelompok Aradith. Penamaan itu dikarenakan salah seorang dari kelompok itu, yang bernama Aradith, secara terang-terangan mengacungkan pedang ke muka Dajjal.

Sebelum melawan Dajjal, Kelompok Aradith memohon kepada Tuhan agar diberikan kemampuan untuk memisahkan kekuatan setan dari jasad manusia dan menghancurkan kekuatan itu. Tuhan pun mengabulkan permohonan baik mereka. Mereka mampu menarik dan mengurung kekuatan setan ke dalam gelembung yang sekeras baja. Di dalam gelembung itu, kekuatan setan dilenyapkan.

Sedikit demi sedikit, pengikut Dajjal pun bisa dilenyapkan kekuatan setannya. Namun tidak dengan Dajjal. Kekuatannya terlalu besar tak mampu dilumpuhkan. Kekuatan setan telah menyatu dengan Dajjal. Dajjal tak bisa dikembalikan menjadi manusia biasa.

Kelompok Aradith akhirnya memojokkan Dajjal pada sebuah jurang yang sangat curam. Dajjal jatuh ke dalamnya. Tak terdengar suara dentuman ketika Dajjal terjatuh di jurang itu. Kelompok Aradith bersama-sama menimbun jurang itu dengan tanah dan batu di sekitar mereka. Dajjal dikubur hidup-hidup. Namun hingga kini, tak ada yang tahu di mana kuburan Dajjal itu selain Kelompok Aradith.”

“Kalau begitu, bagaimana cara setan membangkitkan Dajjal?” tanya Alila yang terlihat penasaran.

“Dajjal yang telah memiliki kekuatan setan, ternyata tidak bisa mati begitu saja. Setelah Dajjal dikubur hidup-hidup, beberapa anak Iblis datang menyerang Kelompok Aradith. Mereka memaksa Kelompok Aradith menunjukkan di mana Dajjal dikuburkan. Tapi Kelompok Aradith tidak pernah mau memberitahukannya. Hingga akhirnya, dari salah satu anak Iblis yang telah sekarat, Kelompok Aradith tahu bahwa ada cara lain untuk memanggil kembali kekuatan setan yang ada pada Dajjal. Mereka cukup mengumpulkan kekuatan setan mereka hingga sempurna. Jika kekuatan mereka sudah sempurna, mereka cukup melaksanakan ritual pembangkitan Dajjal. Dengan begitu, Dajjal akan bangkit dan datang kepada mereka dengan sendirinya.”

“Bagaimana mereka mengumpulkan kekuatan itu?”

“Seperti benih yang ditanam pada tanah,” jawab ayah singkat.

“Maksud ayah?”

“Manusia adalah tanah dan kekuatan setan itu adalah benihnya. Semakin baik benih itu disiram dan dipupuk, maka kekuatan setan itu akan semakin kuat. Penyiram dan pupuk untuk benih itu adalah kebencian dan kedengkian di hati manusia. Maka tak heran, benih ini bisa tumbuh subur pada diri manusia dengan sedikit bisikan setan,” kata Ayah sambil menunjuk dadanya.

***

Malam semakin larut, namun pembicaraan Alila dan ayahnya masih berlanjut.

“Kita adalah keturunan Aradith, Alila. Kelompok yang bertugas dan menghalangi kebangkitan Dajjal,” kata ayah kembali bercerita.

“Lalu, kenapa Aku tak memiliki kekuatan yang seharusnya dimiliki oleh seorang keturunan Aradith?”

“Kekuatan Aradith hanya muncul berselang, yaitu pada setiap keturunan ganjil.”

“Jadi, anakku memiliki kekuatan Aradith?” tanya Alila yang tak sabar menanti inti ceritanya.

Ayah sempat terdiam. Alila berkali-kali memanggilnya hingga akhirnya ia mau bicara.

“Masalahnya, tanda yang muncul dari anakmu bukanlah kekuatan Aradith, tapi kekuatan setan,” kata ayah sambil menunduk menghindari tatapan Alila.

Alila tercengang. Dia tak bisa berkata apa-apa. Mulutnya terngaga dan matanya terbelalak.

“Tapi, tadi Ayah bilang, kita adalah keturunan Aradith. Mengapa anakku malah memiliki kekuatan setan?” tanya Alila. Terlihat matanya mulai berkaca.

“Begini, Alila. Menurut Mushaf Aradith, kelangsungan Aradith akan berakhir pada saat di mana seorang keturunan Aradith memiliki kekuatan setan. Artinya, anak itu adalah keturunan Aradith terakhir, dan juga anak berkekuatan setan terakhir. Anak ini memiliki kekuatan yang lebih kuat dari anak yang memiliki kekuatan setan lainnya. Anak inilah yang kemudian disebut sebagai anak perantara.”

“Tidak mungkin. Ayah, Aku tidak mewarisi kekuatan setan. Yang aku warisi adalah kekuatan Aradith. Maka tidak mungkin anakku memiliki kekuatan setan, Yah,” kata Alila masih tidak percaya.

“Ya, kau benar. Kau tidak mungkin mewarisi kekuatan setan. Tapi, sampai saat ini mungkin kau tidak pernah tahu bahwa kau telah menikahi seorang pemuja setan,” ucap ayah lirih.

Seketika Alila mematung. Matanya tak berkedip menatap ayahnya. Mulutnya sedikit terbuka. Terdengar setengah bisikkan keluar dari mulutnya, “Suamiku.... ” Belum sempat Alila meneruskan kata-katanya, ayahnya telah lebih dulu menyelesaikan kalimatnya.

“Ya. Suamimu adalah seorang pemuja setan,” kata ayah singkat.

Alila kembali mematung. Seolah ada anak panah yang menghujam jantungnya. Dadanya terasa sesak, tapi dia masih bisa merasakan napasnya tetap masuk ke tubuhnya secara perlahan. Hatinya berubah kalut. Pikirannya kusut. Malam yang semakin larut seolah tak dapat menenangkan hatinya. Nyanyian para jangkrik bahkan tak dapat menjernihkan pikirannya. Bintang memang begitu terang, tapi hari esok tetaplah sebuah misteri.

***

Jumat, 15 Januari 2016

Bagian I: Munculnya Sebuah Tanda



Kehidupan adalah sebuah cerita. Seperti layaknya sebuah cerita, dalam kehidupan pun selalu ada permulaan, konflik dan penyelesaian. Hal itu terus terjadi berulang-ulang kali, hingga waktu memenggal absurditas itu. Bahkan kadang, kehidupan seakan terasa tak pernah ada penyelesaian, hingga akhirnya seseorang harus menjemput waktunya sendiri dan dengan bangga ia berkata, “itulah penyelesaian,”

Bicara kehidupan, tak akan lepas dari takdir. Takdir seperti layaknya kata-kata yang membawa pembaca melewati alur cerita. Pembaca tak akan bisa berbuat apa-apa. Pembaca hanya akan menjadi kereta yang berjalan di atas rel, tak bisa berbelok atau mundur ke stasiun sebelumnya. Pembaca akan terus melaju, menyusuri kata demi kata yang bertindak sebagai rel yang menuntun matanya hingga akhirnya sampai pada stasiun tujuannya (akhir cerita). Begitulah takdir, kita tidak akan bisa mundur hingga kehidupan benar-benar berakhir.

Namun, akan selalu ada kata-kata sulit dalam cerita yang membuat kita berhenti sejenak. Membuat kita berpikir, menggaruk kepala, membuka kamus, atau bahkan menutup buku itu begitu saja. Seperti apa  yang akan kita lakukan pada takdir sulit yang kita hadapi. Kita akan berpikir, menggaruk kepala, membuka kamus, dan bahkan menutup napas hidup kita begitu saja. Tunggu, membuka kamus? Kamus seperti apa? Mungkin, bisa kubilang kamus Tuhan yang terletak di antara hati, nafsu, dan akal.

***

“Dewa! Oper ke sini!” kata Baynuri sambil melambaikan tangannya.

Tanpa ragu, Dewa mengoper bolanya kepada Baynuri. Baynuri berhasil menyambut operan itu dengan baik. Di depan gawang Fadhil telah bersiap menjaga gawangnya. Dewa pun ikut berlari dan mencari posisi yang paling tepat untuk bisa membobol gawang Fadhil. Fadhil pun mulai menerka apa yang akan dilakukan Baynuri, membobol gawangnya langsung, atau mengopernya kembali pada Dewa. Mata Fadhil kini hanya terpaku pada bola yang terus bergulir itu. Tapi tak disangka, Baynuri menendang bolanya sekuat yang dia bisa. Fadhil melompat ke arah laju bola itu, dan hap!

 “Gol!” Baynuri berteriak sambil mengepalkan tangannya dengan ekspresi yang sangat bahagia.

Di sisi lain, Dewa dengan raut wajah kecewanya hanya bisa menendang-nendang tanah dengan ujung sepatunya.

“Dia selalu seperti itu. Coba saja dia memberikan bola itu lagi kepadaku, pasti akan terjadi gol yang lebih bagus dari ini. Kadang aku ingin sekali dia tidak ada dalam tim ini,” Dewa membatin dalam dirinya sendiri.

Belum sempat kekesalan itu hilang, tiba-tiba saja Dewa merasa pusing sekali. Kepalanya serasa berdenyut dan akan meledak. Dia sampai harus menahan ledakan di kepalanya itu dengan kedua tangannya. Tak ada satu pun temannya yang mempedulikan dirinya. Tiba-tiba semua gelap, tapi tak lama karena kemudian dia kembali berdiri di lapangan tempatnya bermain bola. Di pinggir lapangan dia melihat temannya ramai berkumpul. Dewa menghampiri kerumunan itu. Setelah mendekat, dia melihat Baynuri berbaring di sebelah batu kali yang biasa mereka duduki seusai bermain bola. Baru saja dia ingin mendekat dan menyentuh punggung Baynuri, tiba-tiba dia dikagetkan oleh sesuatu.

“Dewa, ayo balik ke posisi,” kata Baynuri sambil menepuk pundak Dewa. Saat itu juga, kepalanya tak lagi terasa sakit sedikit pun.

Mereka kembali bermain. Kini Baynuri membawa bola, dia mampu melewati Iwan, tapi tak lebih dari tiga langkah kemudian Anwar telah siap merebut bola yang dibawa Baynuri. Anwar berhasil mendapatkan bola itu dengan mendorong tubuh Baynuri menggunakan badannya. Baynuri terpental dan bola yang bebas itu langsung diambil oleh Anwar. Tidak banyak ambil resiko lagi, Anwar langsung menendang bola itu ke arah gawang. Dan tembakannya sama sekali tidak meleset. Anwar berhasil menambah satu angka untuk timnya.

Di sela-sela kegembiraan Anwar. Anwar mendekati Baynuri yang tadi terjatuh karena dorongan badannya. Baynuri masih terbaring di pinggir lapangan. Terdengar rintihan kecil keluar dari mulut Baynuri. Teman-temannya mulai datang mendekatinya karena penasaran. Berkali-kali dia dipanggil oleh teman-temannya, namun dia tak menjawab atau pun sekedar menatap mereka.

“Udah jangan cengeng, kedorong gitu aja loyo banget sih! Ayo main lagi,” kata Anwar sambil membalik tubuh Baynuri.

Namun betapa kagetnya Anwar, ia melihat kepala Baynuri telah merah tertutupi darah yang mengalir dari dahinya. Lantas ia berteriak dan menarik perhatian semua temannya. Merak semua panik dan berusaha menolong Baynuri.

“Akan aku beri tahu orang tua Baynuri di rumah,” kata Iwan yang langsung berlari.

“Dasar pengecut,” kata Jaka sambil memperhatikan Iwan yang berlari semakin jauh. Kini padangan Jaka beralih kepada Dewa. “Kau tahu? Sebenarnya, Iwan itu takut darah,” kata Jaka kemudian.

Meski jengkel dan sempat berharap Iwan berlumuran darah, Dewa bersama teman-temannya berusaha mengangkat tubuh Baynuri. Dia kemudian mengikatkan bajunya yang telah dibuka ke kepala Baynuri agar darah tak lagi mengalir dari dahi Baynuri.

Namun tiba-tiba Dewa tak mampu menopang tubuh Baynuri, kepalanya kembali terasa sakit. Hal yang sama seperti sebelumnya terulang. Lagi-lagi kepalanya terasa ingin meledak. Kemudian semuanya menjadi gelap. Begitu dia membuka matanya, tak ada lagi Baynuri. Yang dia lihat kini, Iwan tertabrak motor hingga terpental. Tapi begitu dia ingin mendekat dan menolong Iwan, semuanya kembali gelap. Kembali dia membuka matanya, kini dia melihat Anwar tengah memperhatikannya.

“Kau tidak apa-apa, Dewa? Kalau kau merasa keberatan, biar yang lain saja yang memapah Baynuri,” kata Anwar yang memapah sisi kanan Baynuri.

Tapi Dewa hanya menggeleng dan kemudian berusaha berdiri dan berjalan. Dewa dan Anwar memapah Baynuri, sedangkan yang lainnya mengikuti dari belakang. Memang agak jauh antara jarak lapangan dengan rumah Baynuri, belum lagi mereka juga harus melewati kali dan jalan raya untuk sampai ke rumah Baynuri.

“Sepertinya habis terjadi kecelakaan,” kata Fadhil kepada Jaka yang berjalan di belakang Dewa dan Anwar. “Lihat itu,” ucap Fadhil melanjutkan dan menunjuk ke arah kerumunan orang yang ada di pinggir jalan raya.

“Coba kita lihat,” kata Jaka kemudian.

“Hey, kita kan harus mengantar Baynuri!” teriak Dewa kepada Jaka dan Fadhil yang berlari mendekati kerumunan.

“Kalian duluan saja. Nanti kami menyusul!” balas Fadhil berteriak.

Dewa menggelengkan kepalanya sambil melihat Fadhil dan Jaka yang berlari mendekati kerumunan orang. Setelah itu Dewa memberi isyarat kepada Anwar untuk melanjutkan perjalanannya ke rumah Baynuri.

Sampai di rumah Baynuri, ibu Baynuri yang kebetulan sedang berada di luar rumah langsung berlari menghampiri Dewa dan Anwar.

“Ada apa dengan Baynuri?” tanyanya heran.

Namun tak ada satu pun dari mereka yang menjawab, mereka hanya menunduk dan membiarkan ibu Baynuri memeriksa anaknya sendiri. Ibu Baynuri langsung terpaku pada baju yang diikatkan di dahi anaknya.

“Apa yang terjadi pada anakku? Ayo, bawa dia ke dalam,” kata ibu Baynuri bergegas.

Kini ibu Baynuri terlihat lebih khawatir dari sebelumnya. Dia menuntun Dewa dan Anwar untuk segera membaringkan Baynuri di kursi yang berada pada ruang tamunya. Dia langsung mengelus dahi anaknya. Terlihat air mata mulai metes di pipinya.

“Apa Iwan belum ke sini dan memberitahu ibu?” tanya Dewa.

Ibu Baynuri hanya menggeleng.

Dewa dan Anwar saling pandang. Kemudian Dewa memberi isyarat agar Anwar memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Baynuri.

“Begini, Bu. Saat kami sedang bermain bola, Baynuri terjatuh dan kepalanya langsung menghantam batu besar yang ada di pinggir lapangan,” ucap Anwar sedikit gemetar.

Ibu Baynuri malah menangis sejadi-jadinya. Terlebih ketika ibu Baynuri memanggil-manggil Baynuri, Baynuri hanya mampu membuka mulutnya yang pucat tanpa mengeluarkan suara apa pun. Beberapa air mata menetes menghujani pipi Baynuri.

Terdengar sayup-sayup Baynuri memanggil ibunya. Ibunya semakin membungkuk hingga hidung ibunya menempel pada pipi Baynuri. Tak ada kata yang keluar. Hanya isakan yang terdengar. Air mata yang membasahi pipi Baynuri tak sanggup membuat mata Baynuri terbuka. Beberapa saat kemudian, tangan Baynuri tak mampu lagi menggenggam jari ibunya. Tubuhnya melemas. Napas tak lagi keluar dari hidungnya. Ibu Baynuri menjerit dan terus membangunkan Baynuri. Tapi Baynuri, telah tertidur untuk selamanya.

Dewa dan Anwar pulang setelah para tetangga datang karena mendengar jeritan ibu Baynuri. Mereka tak tahu harus berbuat apa, akhirnya mereka memilih untuk pulang.

Ketika mereka berjalan melewati rumah Iwan, mereka melihat orang ramai berkumpul. Di sana, mereka juga melihat Fadhil dan Jaka. Tanpa pikir panjang, Dewa dan Anwar langsung menghampiri Fadhil dan Jaka.

“Ada apa?” tanya Anwar sambil berusaha melihat ke dalam rumah Iwan.

“Iwan tertabrak. Tubuhnya berlumuran darah,” jawab Fadhil.

Anwar menatap Fadhil tak percaya. Begitu juga dengan Dewa.

“Kau ingat kecelakaan di jalan raya tadi? Ternyata Iwan yang tertabrak,” kata Jaka menerangkan.

Sebelum azan maghrib berkumandang, dua berita duka terdengar dari speaker masjid di kampung mereka.

***

Di rumah, Dewa hanya tinggal dengan ibu dan kakeknya. Ayahnya meninggal tepat ketika dia dilahirkan, itu kata ibunya. Namun, sampai sekarang, Dewa tak pernah tahu apa penyebab kematian ayahnya. Setiap dia bertanya tentang kematian ayahnya, ibunya tak pernah mau menjawab pertanyaannya.

Setelah salat isya berjamaah, Dewa langsung meninggalkan ibu dan kakeknya. Dia bangkit dan langsung menuju ke kamarnya di sebelah ruangan itu.

“Nak.”

Panggilan ibunya membuatnya berhenti melangkah. Ia menoleh kepada ibunya.

“Kemari sebentar,” ucap ibunya.

Dewa menghampiri ibunya dan duduk tepat di sampingnya. Sementara itu, di sebelah mereka, kakek mulai membaca Alquran.

“Apa yang kau pikirkan, Nak?” tanya ibunya.

Dewa hanya menundukkan kepalanya.

“Nak,” ibunya berusaha memandang wajahnya, “bicaralah,” kata ibunya berusaha meyakinkan.

“Iwan dan Baynuri meninggal, Bu,” kata Dewa sambil tetap menunduk.

Tangan hangat ibunya tiba-tiba membelai kepala Dewa. Dewa mengangkat kepalanya dan memandang wajah ibunya. Ibunya tersenyum kepadanya.

“Sudahlah, Nak, jangan terlalu bersedih. Itu tidak baik. Kau harus ingat, segala sesuatu berasal dari-Nya, dan akan kembali kepada-Nya pula. Jika kau tidak merelakan kepergian dua orang temanmu itu, maka mereka tidak akan tenang di alam sana. Sudahlah, ikhlaskan meraka,” kata ibunya sambil mengelus pipi Dewa. Telapak lembut itu seakan menjadi bantal tipis untuk Dewa bersandar.

“Ada yang aneh dengan kematian mereka, Bu,” kata Dewa pelan.

Ibunya mengernyitkan dahi.

“Aku melihat kematian mereka sebelum mereka benar-benar mati, Bu,” lanjut Dewa.

“Maksudmu?” tanya ibunya tak mengerti.

“Aku seperti bermimpi melihat kematian mereka. Tapi aku yakin itu bukan mimpi, karena aku tidak tidur. Sebelum melihat itu, kepalaku terasa begitu sakit,” kata Dewa kemudian.

“Ketika aku sedang bermain bola, aku cemburu pada Baynuri yang selalu membobol gawang tanpa memberikan kesempatannya kepadaku. Saat itu aku ingin sekali Baynuri tidak ada dalam timku, Bu. Aku ingin menjadi bintang lapangan, bukan Baynuri. Setelah berpikir seperti itu, tiba-tiba saja kepalaku menjadi sakit. Aku tak bisa menahan rasa sakitnya, kepalaku rasanya ingin pecah. Setelah itu, aku melihat Baynuri telah menghantam batu dan kepalanya berlumuran darah. Tapi ketika aku ingin menyentuh Baynuri, pundakku malah ditepuk oleh Baynuri. Dan aku sadar itu hanya, seperti mimpi saja. Tapi tidak lama setelah itu, keadaan yang pernah aku lihat sebelumnya itu terjadi. Aku tak mengerti apa maksudnya ini, Bu,” ungkap Dewa sambil menjambak rambutnya.

“Kemudian,” Dewa melanjutkan, “ketika aku dan teman-temanku sedang sibuk mengurusi Baynuri, Iwan malah lari pulang karena takut darah. Merasa kesal, tanpa sadar aku sempat berharap tubuh Iwan berlumuran darah. Lagi-lagi, setelah itu aku merasakan sakit di kepalaku dan aku melihat Iwan tertabrak motor hingga mengakibatkan tubuhnya berlumuran darah. Kemudian aku kembali disadarkan oleh temanku, tapi kali ini Anwar yang menyadarkanku,” kata Dewa.

“Kemudian, apa yang kau lihat itu menjadi kenyataan lagi?” tanya ibu.

Dewa mengangguk.

Tiba-tiba kakek berhenti mengaji. Tak seperti biasanya kakek berhenti mengaji secepat ini. Dewa dan ibu memperhatikan kakek. Mereka takut kalau obrolan merekalah yang menganggu kakek dan membuat kakek berhenti mengaji.

Kakek menatap Dewa. Dewa menunduk, tak berani menatap balik ke arah kakek.

“Apakah yang kau lihat sebelumnya, benar-benar sama dengan yang terjadi setelahnya, Nak?” tanya kakek dengan suaranya yang berat.

Dewa terkejut, begitu juga dengan ibu. Dewa hanya mengangguk tanpa suara. Kakek kemudian terdiam. Tatapannya kosong menatap lurus ke depan. Entah apa yang dipikirkannya.

Tiba-tiba kakek menutup dan meletakkan Alqurannya pada sebuah tempat mirip lemari yang memang disediakan untuk menyimpan Alquran dan kitab-kitab hadis yang biasa dibaca kakek.

“Wihaga. Itu wihaga,” kata kakek kemudian sambil berjalan mendekati ibu dan Dewa.

Kemudian kakek duduk di sebelah Dewa. Mereka duduk melingkar, persis seperti orang-orang yang sedang melakukan diskusi kecil.

 “Apa itu, Kek?” tanya Dewa heran.

“Sebuah kata dalam bahasa Kawi yang artinya tanda keajaiban. Kau menyimpan kekuatan besar, Nak,” kata Kakek.

Dewa malah tertawa. Tapi kemudian langsung terdiam karena kakeknya terlihat serius.

“Baiklah, aku tidak memakasamu untuk langsung mempercayaiku. Tapi kau harus tahu bahwa kau memiliki kekuatan yang tidak dimilki oleh orang lain,” kata kakek kemudian.

Dewa tak berkata apa pun. Apa yang dikatakan kakeknya benar-benar terdengar seperti dongeng belaka. Tapi dia tahu, kakek bukan orang yang suka bercanda.

“Sudah, tak usah kau pikirkan lagi. Sekarang pergilah tidur. Kau tenangkan pikiranmu. Masalah ini terlalu sulit untuk kau mengerti,” lanjut kakek.

Dewa langsung melangkah menuju kamarnya. Dia meninggalkan ibu dan kakeknya di ruang itu.

Di kamar, Dewa tak langsung memejamkan matanya. Dia masih memikirkan apa yang dikatakan kakeknya. Bahkan, dia sempat mendengar suara ibunya memaksa kakek menjelaskan apa yang sedang dialaminya. Namun dia tidak mendengar jelas jawaban kakek, sampai akhirnya dia terlelap dalam tidurnya.

***