Rabu, 23 Maret 2016

Bedah Buku Jika Aku Milikmu

Suasana diskusi di Auditorium Koran SINDO.
 
JAKARTA – Selasa 17 November 2015, acara bedah buku Jika Aku Milikmu diadakan oleh GagasMedia bekerja sama dengan Perpustakaan Koran SINDO di Auditorium Koran SINDO, Jakarta Pusat. Acara yang dihadiri oleh dua penulis, Bernard Batubara dan Nicky Rosadi, juga editor novel Jika Aku Milikmu, Widyawati Oktavia, ini mengundang banyak perhatian masyarakat terutama bagi mereka yang gemar membaca dan menulis novel. Dalam diskusi bedah buku kali ini, lelaki yang akrab disapa Bara ini menceritakan sedikit gambaran yang berada dalam novel Jika Aku Milikmu.

Novel yang bertemakan cinta ini mengisahkan tentang Sarif, seorang pemuda yang berasal dari Pontianak, bersama Nur, teman perempuan Sarif yang lahir dan tinggal di kota yang sama. Mereka saling mencintai tetapi tidak mengutarakan perasaan mereka masing-masing. Hingga tiba saatnya Sarif harus pergi ke Jakarta selama empat tahun demi melanjutkan pendidikan di bangku kuliah, sedangkan Nur tetap tinggal di tempat kelahirannya, Pontianak, untuk menjaga ibunya.

Sarif mempunyai ambisi untuk menjadi seorang penulis dan mempunyai intelektual yang tinggi. Sedangkan Nur, perempuan yang ragu untuk menggapai mimpinya dikarenakan Nur harus merawat ibunya yang sakit, padahal dia memiliki bakat bermain biola seperti bakat yang dimiliki ayahnya sebagai pemain biola profesional di kampungnya. Di dalam novel ini, Bara menambahkan peran Mei sebagai wanita lain yang hadir di hidup Sarif. Mei digambarkan sebagai sosok perempuan etnis China berkulit putih, berparas cantik, dan memiliki tubuh semampai, yang  membuat banyak lelaki menyukainya. Mei merasa tertarik dengan Sarif karena mereka mempunyai hobi yang sama. Selain itu, ia juga dapat berdiskusi tentang banyak hal dengan Sarif.
Foto bersama peserta diskusi.
Novel keempat karya Bara ini merupakan seri L.O.V.E CYCLE GagasMedia. L.O.V.E Cycle merupakan seri novel GagasMedia yang menggambarkan tentang putaran kisah cinta yang berawal dari tahap Cinta Pertama–Masa Berharap/PDKT–Masa Berpacaran–Masa Putus–Masa Move On dan Masa Berkomitmen. Seri L.O.V.E Cycle ini melibatkan beberapa penulis GagasMedia.  Novel Jika Aku Milikmu, merupakan seri L.O.V.E Cycle yang menggambarkan situasi di masa berpacaran.

Bara mengatakan, novel ini “tidak sengaja” tercipta karena ia gagal memenuhi deadline yang ditentukan oleh GagasMedia untuk proyek Indonesiana. “Pada awalnya Mbak Iwied, sapaan akrab Widyawati Oktavia, menawarkan saya untuk ikut serta dalam proyek Indonesiana, di mana saya akan menciptakan kisah yang berlatarkan Kota Pontianak yang merupakan kota kelahiran saya. Sayangnya, saya gagal memenuhi deadline yang telah ditentukan. Sehingga saya batal untuk ikut serta dalam proyek tersebut. Mbak Iwied kemudian mengusulkan agar cerita yang saya buat dijadikan novel saja, akhirnya terbitlah novel ini,” ungkap Bara saat diskusi berlangsung.

Bara berpendapat bahwa kisah dua perempuan yang saling memperebutkan cintanya itu lebih seru dan bisa memperpanjang jalan cerita menjadi beberapa adegan. “Berbeda jika novel dengan cerita dua orang pria yang memperebutkan satu perempuan, itu akan berakhir singkat karena kalau tidak bertengkar, mereka mundur salah satu,” ujarnya.

Mbak Iwied, selaku editor novel Jika Aku Milikmu mengatakan, Bara merampungkan novel ini dalam kurun waktu enam bulan. Penulis buku Penjual Kenangan ini menambahkan bahwa GagasMedia sangat terbuka untuk menerima penulis-penulis baru.

“Siapa saja boleh mendaftarkan karyanya, baik berupa kumpulan cerpen maupun novel. Silakan buka www.gagasmedia.net untuk informasi lebih lanjut. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, di antaranya calon penulis harus menulis minimal 75 halaman. Setelah itu editor akan mengulas selama kurang lebih 3–5 bulan. Kemudian tim editor akan menghubungi penulis untuk tahap selanjutnya,” ungkap Mbak Iwied.

Nah, bagi kalian yang senang menulis cerita-cerita fiksi dan cerpen, bisa mengirimkan karyanya melalui website GagasMedia. Mbak Iwied menyarankan, alangkah baiknya jika calon penulis membaca terlebih dahulu karya-karya penulis lain yang bukunya telah diterbitkan oleh GagasMedia. Agar calon penulis mendapatkan referensi mengenai karya yang sesuai dengan standar GagasMedia.

Novel Jika Aku Milikmu telah dijual di toko-toko buku seluruh Indonesia dan dijual dengan harga Rp59.000. Silakan klik URL ini http://gagasmedia.net/atikel-buku/34-buku-baru/1447-jika-aku-milikmu untuk informasi lebih lanjut.


Sumber: http://moeslema.com/en/bedah-buku-jika-aku-milikmu-karya-bernard-batubara-2/ (dengan perubahan)

Kamis, 03 Maret 2016

Bidadari Pemeluk Subuh

Nicky Rosadi 

Spesifikasi Buku
ID: 715031364 
ISBN: 9786020268682
Editor: Afrianti Pardede
Ukuran: 12,5x19,5 cm
Harga: Rp48.800
Terbit: 29 Juli 2015
Tebal: 240 Hlm






Dira, memutuskan untuk setia menunggu Aqila, yang dia beri janji 12 tahun lalu untuk bertemu kembali di tempat yang mereka telah tentukan. Dira seharusnya bahagia karena pertemuan yang akhirnya terjadi setelah menunggu sekian lama. Ternyata, Aqila bukan gadis yang sama lagi seperti 12 tahun yang lalu.

Keinginan Dira untuk bersama Aqila tidak disambut dengan baik. Dira berusaha membuka hatinya dan mencari cinta yang tepat untuknya. Kehadiran Mila, yang sangat mirip dengan Aqila, membuat Dira juga semakin susah move on dari sosok Aqila. Keinginan untuk bisa bersama dengan Mila pun semakin kuat. Namun berkali-kali Dira mencoba, berkali-kali juga Mila mematahkan keinginan Dira. Dira dan Mila tidak bisa bersatu karena satu alasan yang mendasar, meskipun mereka tahu, mereka saling memiliki rasa.

Pencarian Dira pun berakhir hingga dia menemukan wanita pilihannya. Wanita yang tidak pernah diduganya. Wanita yang tidak pernah terlintas di masa lalunya. Tapi dia yakin, akan menjadi masa depannya.


Pemesanan & informasi, hubungi :
GRAMEDIA DIRECT
Telp. (62-21) 536 50 110 / 111 ext. 3901 / 3902
Email: sales.dm@gramediapublishers.com, langganan@gramediapublishers.com
Online Service / Layanan Online: www.gramedia.com ; www.grazera.com
Suggestion & Complain / Saran & Keluhan: keluhan@gramediapublishers.com 

Secangkir Teh

Nicky Rosadi, Dian Agustina, Rohmadi 

Spesifikasi Buku
ID: 188141232  
ISBN: 9786020241449

Editor: Afrianti Pardede
Ukuran: 12.5x19.5 cm
Harga: Rp46.800

Terbit: 28 Mei 2014
Tebal: 248 Hlm   








Meminum Secangkir Teh adalah awal untuk memulai sebuah pembicaraan, yang menyisakan banyak cerita untuk dikenang. Secangkir teh menjadi cara Regi, Soleh dan Intan dalam mengenang orang-orang yang disayangi. Tapi ternyata kisah mereka tidak semanis secangkir teh yang biasa mereka minum. Berhasil memiliki orang yang disayang atau memutuskan untuk pergi, semuanya disajikan dalam kenangan bersama secangkir teh.

Secangkir Teh adalah novelet hasil kolaborasi tiga orang penulis yang terdiri dari guru dan murid. Dua orang guru dan satu orang murid yang menulis dengan gaya yang berbeda dan saling menyesuaikan. Ada kisah yang sangat manis dan penuh kenangan dalam Secangkir Teh.



Pemesanan & informasi, hubungi:
GRAMEDIA DIRECT
Telp. (62-21) 536 50 110 / 111 ext. 3901 / 3902
Email: sales.dm@gramediapublishers.com, langganan@gramediapublishers.com
Online Service / Layanan Online: www.grazera.com
Suggestion & Complain / Saran & Keluhan: keluhan@gramediapublishers.com

Kamis, 28 Januari 2016

Lumpuh.

Aku tak berharap luka menganga terbuka di depan mata.

Seumpama pasir-pasir tertiup angin,
dengan bisik daun kelapa yang muncul tiba-tiba,
aku tidak pernah lupa telah lumpuh dalam cinta.

Berangkatlah seorang pengembara ke arah selatan,
mencari pengharapan
untuk dibawa pulang bersama isi nampan.
Bukan tangan hampa yang diimpikan dua atau tiga mata dan kepala.
Mereka tetap ingin cinta bisa bicara apa adanya.

Aku tak berharap luka menganga terbuka di depan mata.

Menyambut senja-senja yang hilang disiram tawa.
Tawa yang meluka.
Tawa yang menyedih.
Tawa yang, tak bisa disebut canda.

Pulanglah segera.
Bercerita saja apa adanya.
Bukan karena bisa sembunyikan luka.
Tapi biarkan luka yang bicara.
Biar dia menganga.
Biar dia terbuka.
Biar dia jadi nyeri di depan mata.

Aku tak berharap luka menganga terbuka di depan mata,
maka terpejamlah,
dan bawa duka-duka.



Gondangdia,

28/01/2016
19:48

Jumat, 15 Januari 2016

Bagian I: Munculnya Sebuah Tanda



Kehidupan adalah sebuah cerita. Seperti layaknya sebuah cerita, dalam kehidupan pun selalu ada permulaan, konflik dan penyelesaian. Hal itu terus terjadi berulang-ulang kali, hingga waktu memenggal absurditas itu. Bahkan kadang, kehidupan seakan terasa tak pernah ada penyelesaian, hingga akhirnya seseorang harus menjemput waktunya sendiri dan dengan bangga ia berkata, “itulah penyelesaian,”

Bicara kehidupan, tak akan lepas dari takdir. Takdir seperti layaknya kata-kata yang membawa pembaca melewati alur cerita. Pembaca tak akan bisa berbuat apa-apa. Pembaca hanya akan menjadi kereta yang berjalan di atas rel, tak bisa berbelok atau mundur ke stasiun sebelumnya. Pembaca akan terus melaju, menyusuri kata demi kata yang bertindak sebagai rel yang menuntun matanya hingga akhirnya sampai pada stasiun tujuannya (akhir cerita). Begitulah takdir, kita tidak akan bisa mundur hingga kehidupan benar-benar berakhir.

Namun, akan selalu ada kata-kata sulit dalam cerita yang membuat kita berhenti sejenak. Membuat kita berpikir, menggaruk kepala, membuka kamus, atau bahkan menutup buku itu begitu saja. Seperti apa  yang akan kita lakukan pada takdir sulit yang kita hadapi. Kita akan berpikir, menggaruk kepala, membuka kamus, dan bahkan menutup napas hidup kita begitu saja. Tunggu, membuka kamus? Kamus seperti apa? Mungkin, bisa kubilang kamus Tuhan yang terletak di antara hati, nafsu, dan akal.

***

“Dewa! Oper ke sini!” kata Baynuri sambil melambaikan tangannya.

Tanpa ragu, Dewa mengoper bolanya kepada Baynuri. Baynuri berhasil menyambut operan itu dengan baik. Di depan gawang Fadhil telah bersiap menjaga gawangnya. Dewa pun ikut berlari dan mencari posisi yang paling tepat untuk bisa membobol gawang Fadhil. Fadhil pun mulai menerka apa yang akan dilakukan Baynuri, membobol gawangnya langsung, atau mengopernya kembali pada Dewa. Mata Fadhil kini hanya terpaku pada bola yang terus bergulir itu. Tapi tak disangka, Baynuri menendang bolanya sekuat yang dia bisa. Fadhil melompat ke arah laju bola itu, dan hap!

 “Gol!” Baynuri berteriak sambil mengepalkan tangannya dengan ekspresi yang sangat bahagia.

Di sisi lain, Dewa dengan raut wajah kecewanya hanya bisa menendang-nendang tanah dengan ujung sepatunya.

“Dia selalu seperti itu. Coba saja dia memberikan bola itu lagi kepadaku, pasti akan terjadi gol yang lebih bagus dari ini. Kadang aku ingin sekali dia tidak ada dalam tim ini,” Dewa membatin dalam dirinya sendiri.

Belum sempat kekesalan itu hilang, tiba-tiba saja Dewa merasa pusing sekali. Kepalanya serasa berdenyut dan akan meledak. Dia sampai harus menahan ledakan di kepalanya itu dengan kedua tangannya. Tak ada satu pun temannya yang mempedulikan dirinya. Tiba-tiba semua gelap, tapi tak lama karena kemudian dia kembali berdiri di lapangan tempatnya bermain bola. Di pinggir lapangan dia melihat temannya ramai berkumpul. Dewa menghampiri kerumunan itu. Setelah mendekat, dia melihat Baynuri berbaring di sebelah batu kali yang biasa mereka duduki seusai bermain bola. Baru saja dia ingin mendekat dan menyentuh punggung Baynuri, tiba-tiba dia dikagetkan oleh sesuatu.

“Dewa, ayo balik ke posisi,” kata Baynuri sambil menepuk pundak Dewa. Saat itu juga, kepalanya tak lagi terasa sakit sedikit pun.

Mereka kembali bermain. Kini Baynuri membawa bola, dia mampu melewati Iwan, tapi tak lebih dari tiga langkah kemudian Anwar telah siap merebut bola yang dibawa Baynuri. Anwar berhasil mendapatkan bola itu dengan mendorong tubuh Baynuri menggunakan badannya. Baynuri terpental dan bola yang bebas itu langsung diambil oleh Anwar. Tidak banyak ambil resiko lagi, Anwar langsung menendang bola itu ke arah gawang. Dan tembakannya sama sekali tidak meleset. Anwar berhasil menambah satu angka untuk timnya.

Di sela-sela kegembiraan Anwar. Anwar mendekati Baynuri yang tadi terjatuh karena dorongan badannya. Baynuri masih terbaring di pinggir lapangan. Terdengar rintihan kecil keluar dari mulut Baynuri. Teman-temannya mulai datang mendekatinya karena penasaran. Berkali-kali dia dipanggil oleh teman-temannya, namun dia tak menjawab atau pun sekedar menatap mereka.

“Udah jangan cengeng, kedorong gitu aja loyo banget sih! Ayo main lagi,” kata Anwar sambil membalik tubuh Baynuri.

Namun betapa kagetnya Anwar, ia melihat kepala Baynuri telah merah tertutupi darah yang mengalir dari dahinya. Lantas ia berteriak dan menarik perhatian semua temannya. Merak semua panik dan berusaha menolong Baynuri.

“Akan aku beri tahu orang tua Baynuri di rumah,” kata Iwan yang langsung berlari.

“Dasar pengecut,” kata Jaka sambil memperhatikan Iwan yang berlari semakin jauh. Kini padangan Jaka beralih kepada Dewa. “Kau tahu? Sebenarnya, Iwan itu takut darah,” kata Jaka kemudian.

Meski jengkel dan sempat berharap Iwan berlumuran darah, Dewa bersama teman-temannya berusaha mengangkat tubuh Baynuri. Dia kemudian mengikatkan bajunya yang telah dibuka ke kepala Baynuri agar darah tak lagi mengalir dari dahi Baynuri.

Namun tiba-tiba Dewa tak mampu menopang tubuh Baynuri, kepalanya kembali terasa sakit. Hal yang sama seperti sebelumnya terulang. Lagi-lagi kepalanya terasa ingin meledak. Kemudian semuanya menjadi gelap. Begitu dia membuka matanya, tak ada lagi Baynuri. Yang dia lihat kini, Iwan tertabrak motor hingga terpental. Tapi begitu dia ingin mendekat dan menolong Iwan, semuanya kembali gelap. Kembali dia membuka matanya, kini dia melihat Anwar tengah memperhatikannya.

“Kau tidak apa-apa, Dewa? Kalau kau merasa keberatan, biar yang lain saja yang memapah Baynuri,” kata Anwar yang memapah sisi kanan Baynuri.

Tapi Dewa hanya menggeleng dan kemudian berusaha berdiri dan berjalan. Dewa dan Anwar memapah Baynuri, sedangkan yang lainnya mengikuti dari belakang. Memang agak jauh antara jarak lapangan dengan rumah Baynuri, belum lagi mereka juga harus melewati kali dan jalan raya untuk sampai ke rumah Baynuri.

“Sepertinya habis terjadi kecelakaan,” kata Fadhil kepada Jaka yang berjalan di belakang Dewa dan Anwar. “Lihat itu,” ucap Fadhil melanjutkan dan menunjuk ke arah kerumunan orang yang ada di pinggir jalan raya.

“Coba kita lihat,” kata Jaka kemudian.

“Hey, kita kan harus mengantar Baynuri!” teriak Dewa kepada Jaka dan Fadhil yang berlari mendekati kerumunan.

“Kalian duluan saja. Nanti kami menyusul!” balas Fadhil berteriak.

Dewa menggelengkan kepalanya sambil melihat Fadhil dan Jaka yang berlari mendekati kerumunan orang. Setelah itu Dewa memberi isyarat kepada Anwar untuk melanjutkan perjalanannya ke rumah Baynuri.

Sampai di rumah Baynuri, ibu Baynuri yang kebetulan sedang berada di luar rumah langsung berlari menghampiri Dewa dan Anwar.

“Ada apa dengan Baynuri?” tanyanya heran.

Namun tak ada satu pun dari mereka yang menjawab, mereka hanya menunduk dan membiarkan ibu Baynuri memeriksa anaknya sendiri. Ibu Baynuri langsung terpaku pada baju yang diikatkan di dahi anaknya.

“Apa yang terjadi pada anakku? Ayo, bawa dia ke dalam,” kata ibu Baynuri bergegas.

Kini ibu Baynuri terlihat lebih khawatir dari sebelumnya. Dia menuntun Dewa dan Anwar untuk segera membaringkan Baynuri di kursi yang berada pada ruang tamunya. Dia langsung mengelus dahi anaknya. Terlihat air mata mulai metes di pipinya.

“Apa Iwan belum ke sini dan memberitahu ibu?” tanya Dewa.

Ibu Baynuri hanya menggeleng.

Dewa dan Anwar saling pandang. Kemudian Dewa memberi isyarat agar Anwar memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Baynuri.

“Begini, Bu. Saat kami sedang bermain bola, Baynuri terjatuh dan kepalanya langsung menghantam batu besar yang ada di pinggir lapangan,” ucap Anwar sedikit gemetar.

Ibu Baynuri malah menangis sejadi-jadinya. Terlebih ketika ibu Baynuri memanggil-manggil Baynuri, Baynuri hanya mampu membuka mulutnya yang pucat tanpa mengeluarkan suara apa pun. Beberapa air mata menetes menghujani pipi Baynuri.

Terdengar sayup-sayup Baynuri memanggil ibunya. Ibunya semakin membungkuk hingga hidung ibunya menempel pada pipi Baynuri. Tak ada kata yang keluar. Hanya isakan yang terdengar. Air mata yang membasahi pipi Baynuri tak sanggup membuat mata Baynuri terbuka. Beberapa saat kemudian, tangan Baynuri tak mampu lagi menggenggam jari ibunya. Tubuhnya melemas. Napas tak lagi keluar dari hidungnya. Ibu Baynuri menjerit dan terus membangunkan Baynuri. Tapi Baynuri, telah tertidur untuk selamanya.

Dewa dan Anwar pulang setelah para tetangga datang karena mendengar jeritan ibu Baynuri. Mereka tak tahu harus berbuat apa, akhirnya mereka memilih untuk pulang.

Ketika mereka berjalan melewati rumah Iwan, mereka melihat orang ramai berkumpul. Di sana, mereka juga melihat Fadhil dan Jaka. Tanpa pikir panjang, Dewa dan Anwar langsung menghampiri Fadhil dan Jaka.

“Ada apa?” tanya Anwar sambil berusaha melihat ke dalam rumah Iwan.

“Iwan tertabrak. Tubuhnya berlumuran darah,” jawab Fadhil.

Anwar menatap Fadhil tak percaya. Begitu juga dengan Dewa.

“Kau ingat kecelakaan di jalan raya tadi? Ternyata Iwan yang tertabrak,” kata Jaka menerangkan.

Sebelum azan maghrib berkumandang, dua berita duka terdengar dari speaker masjid di kampung mereka.

***

Di rumah, Dewa hanya tinggal dengan ibu dan kakeknya. Ayahnya meninggal tepat ketika dia dilahirkan, itu kata ibunya. Namun, sampai sekarang, Dewa tak pernah tahu apa penyebab kematian ayahnya. Setiap dia bertanya tentang kematian ayahnya, ibunya tak pernah mau menjawab pertanyaannya.

Setelah salat isya berjamaah, Dewa langsung meninggalkan ibu dan kakeknya. Dia bangkit dan langsung menuju ke kamarnya di sebelah ruangan itu.

“Nak.”

Panggilan ibunya membuatnya berhenti melangkah. Ia menoleh kepada ibunya.

“Kemari sebentar,” ucap ibunya.

Dewa menghampiri ibunya dan duduk tepat di sampingnya. Sementara itu, di sebelah mereka, kakek mulai membaca Alquran.

“Apa yang kau pikirkan, Nak?” tanya ibunya.

Dewa hanya menundukkan kepalanya.

“Nak,” ibunya berusaha memandang wajahnya, “bicaralah,” kata ibunya berusaha meyakinkan.

“Iwan dan Baynuri meninggal, Bu,” kata Dewa sambil tetap menunduk.

Tangan hangat ibunya tiba-tiba membelai kepala Dewa. Dewa mengangkat kepalanya dan memandang wajah ibunya. Ibunya tersenyum kepadanya.

“Sudahlah, Nak, jangan terlalu bersedih. Itu tidak baik. Kau harus ingat, segala sesuatu berasal dari-Nya, dan akan kembali kepada-Nya pula. Jika kau tidak merelakan kepergian dua orang temanmu itu, maka mereka tidak akan tenang di alam sana. Sudahlah, ikhlaskan meraka,” kata ibunya sambil mengelus pipi Dewa. Telapak lembut itu seakan menjadi bantal tipis untuk Dewa bersandar.

“Ada yang aneh dengan kematian mereka, Bu,” kata Dewa pelan.

Ibunya mengernyitkan dahi.

“Aku melihat kematian mereka sebelum mereka benar-benar mati, Bu,” lanjut Dewa.

“Maksudmu?” tanya ibunya tak mengerti.

“Aku seperti bermimpi melihat kematian mereka. Tapi aku yakin itu bukan mimpi, karena aku tidak tidur. Sebelum melihat itu, kepalaku terasa begitu sakit,” kata Dewa kemudian.

“Ketika aku sedang bermain bola, aku cemburu pada Baynuri yang selalu membobol gawang tanpa memberikan kesempatannya kepadaku. Saat itu aku ingin sekali Baynuri tidak ada dalam timku, Bu. Aku ingin menjadi bintang lapangan, bukan Baynuri. Setelah berpikir seperti itu, tiba-tiba saja kepalaku menjadi sakit. Aku tak bisa menahan rasa sakitnya, kepalaku rasanya ingin pecah. Setelah itu, aku melihat Baynuri telah menghantam batu dan kepalanya berlumuran darah. Tapi ketika aku ingin menyentuh Baynuri, pundakku malah ditepuk oleh Baynuri. Dan aku sadar itu hanya, seperti mimpi saja. Tapi tidak lama setelah itu, keadaan yang pernah aku lihat sebelumnya itu terjadi. Aku tak mengerti apa maksudnya ini, Bu,” ungkap Dewa sambil menjambak rambutnya.

“Kemudian,” Dewa melanjutkan, “ketika aku dan teman-temanku sedang sibuk mengurusi Baynuri, Iwan malah lari pulang karena takut darah. Merasa kesal, tanpa sadar aku sempat berharap tubuh Iwan berlumuran darah. Lagi-lagi, setelah itu aku merasakan sakit di kepalaku dan aku melihat Iwan tertabrak motor hingga mengakibatkan tubuhnya berlumuran darah. Kemudian aku kembali disadarkan oleh temanku, tapi kali ini Anwar yang menyadarkanku,” kata Dewa.

“Kemudian, apa yang kau lihat itu menjadi kenyataan lagi?” tanya ibu.

Dewa mengangguk.

Tiba-tiba kakek berhenti mengaji. Tak seperti biasanya kakek berhenti mengaji secepat ini. Dewa dan ibu memperhatikan kakek. Mereka takut kalau obrolan merekalah yang menganggu kakek dan membuat kakek berhenti mengaji.

Kakek menatap Dewa. Dewa menunduk, tak berani menatap balik ke arah kakek.

“Apakah yang kau lihat sebelumnya, benar-benar sama dengan yang terjadi setelahnya, Nak?” tanya kakek dengan suaranya yang berat.

Dewa terkejut, begitu juga dengan ibu. Dewa hanya mengangguk tanpa suara. Kakek kemudian terdiam. Tatapannya kosong menatap lurus ke depan. Entah apa yang dipikirkannya.

Tiba-tiba kakek menutup dan meletakkan Alqurannya pada sebuah tempat mirip lemari yang memang disediakan untuk menyimpan Alquran dan kitab-kitab hadis yang biasa dibaca kakek.

“Wihaga. Itu wihaga,” kata kakek kemudian sambil berjalan mendekati ibu dan Dewa.

Kemudian kakek duduk di sebelah Dewa. Mereka duduk melingkar, persis seperti orang-orang yang sedang melakukan diskusi kecil.

 “Apa itu, Kek?” tanya Dewa heran.

“Sebuah kata dalam bahasa Kawi yang artinya tanda keajaiban. Kau menyimpan kekuatan besar, Nak,” kata Kakek.

Dewa malah tertawa. Tapi kemudian langsung terdiam karena kakeknya terlihat serius.

“Baiklah, aku tidak memakasamu untuk langsung mempercayaiku. Tapi kau harus tahu bahwa kau memiliki kekuatan yang tidak dimilki oleh orang lain,” kata kakek kemudian.

Dewa tak berkata apa pun. Apa yang dikatakan kakeknya benar-benar terdengar seperti dongeng belaka. Tapi dia tahu, kakek bukan orang yang suka bercanda.

“Sudah, tak usah kau pikirkan lagi. Sekarang pergilah tidur. Kau tenangkan pikiranmu. Masalah ini terlalu sulit untuk kau mengerti,” lanjut kakek.

Dewa langsung melangkah menuju kamarnya. Dia meninggalkan ibu dan kakeknya di ruang itu.

Di kamar, Dewa tak langsung memejamkan matanya. Dia masih memikirkan apa yang dikatakan kakeknya. Bahkan, dia sempat mendengar suara ibunya memaksa kakek menjelaskan apa yang sedang dialaminya. Namun dia tidak mendengar jelas jawaban kakek, sampai akhirnya dia terlelap dalam tidurnya.

***

Minggu, 30 November 2014

Bidadari Pertama

Seketika dia ada,
seperti terpaan angin
yang tiba-tiba ada di pelupuk mata.

Aku cinta dia, Tuhan.

Kuselipkan namanya dalam rangkai doa
yang kudengungkan dalam sepi
ketika manusia bermimpi.

Apakah cinta hanya ada di dunia?
Apakah cinta selesai ketika jasad tak bernyawa?

Tuhan, aku cinta dia.

Kuberikan cinta tanpa nyawanya,
agar cinta tak bisa mati meninggalkan tempatnya.
Kuberikan cinta tanpa terlihat jasadnya,
agar cinta dapat merasuk dalam diam dan terasa ketika kau terpejam.

Aku cinta dia,
Tuhan,
jadikan dia bidadariku yang pertama Kau pertemukan di surga.

Karang Mulya
30/11/2014
00:20

Rabu, 02 Oktober 2013

Aku Ingin Tenang

Sayang,
aku tak akan hilang.

Seumpama debu-debu itu terbang tanpa tujuan,
aku,
tetap bertahan.

Dan kau tak lagi tinggal dalam lamunan  kesepian,
aku,
menemanimu dalam kehidupan.

Dari dekat aku mencoba melihat,
setitik ketulusan
yang telah lama hilang
dan kurindukan.

Aku,
pertaruhkan kesetiaan.

Untuk dirimu
yang tak mampu membaca isi hatiku,
jangan ragu.

Dan aku akan tetap memelukmu hingga habis masa waktuku.

Sayang,
aku ingin tenang.
Dan biarkan aku terlelap dalam pelukan dan kasih sayang.



Karang Mulya
08/09/2012
22:36

Rabu, 11 September 2013

Asa

Terhanyut aku dalam asa dan keraguan,
yang terus membawaku dalam napas kebimbangan.

Akankah aku terus bertahan dengan segala kepedihan?

Jangan ambil aku dari segala kebahagiaan.
Biarkan aku hidup dalam kesedihan.
Izinkan aku tetap terus merasakan.

Percayalah,
kekecewaan pasti datang,
namun,
air mata yang membeku,
pun,
tak bisa membuatnya hilang.



Karang Mulya,
11/09/2013
00:12

Minggu, 01 September 2013

Apa(-apa)

Seperti busur dan panah,
yang tercipta hanya untuk berpisah.

Seperti dua sisi koin yang kau punya,
ada, tapi tak pernah bertatap muka.

Seumpama nasib membawa kita bersama,
maka kita bukanlah apa-apa.
Warna tak kan menjadikan kita berseri bagai pelangi,
hanya meredam, dan memudar tak jelas apa yang bersinar.

Tidak, tidak.
Aku bukan siapa-siapa,
hanya orang biasa saja.
Temukan dia yang istimewa.
Yang membuatmu bahagia,
dalam dunia selama kau bernyawa.

Sedang aku menunduk malu,
di hadapan Tuhanku
dalam doa yang kutujukan untukmu.
Tak kan kuberhenti meminta dalam waktu-waktu tertentu.
Tak peduli,
meski harus jadi abu.

"Aku ikhlaskan dia pada tangan yang memeluk dan menjaganya di dunia,
karena cintaku tak ada apa-apanya.
Tapi,
Tuhan, jodohkan aku dalam surga."

Meski gelang tak lagi pada tangannya,
meski cincin telah berubah namanya,
tapi jangan biarkan
kacamata terlepas dari kepala.



Karang Mulya,
01/09/2013

00:33

Minggu, 25 Agustus 2013

Tak Ada Akhirnya

Hati ini sampah.
Jiwa ini ampas.
Hanya berharap dari mimpi yang tersisa,
yang tak pernah ditemukan
akhirnya.

Aku hanyalah maling.
Maling, dalam fatamorgana.
Mengambil semua sisa mimpi di dunia,
dan kembali tanpa penjelasan apa-apa.

Aku coba saja berjalan apa adanya,
tapi semua sia-sia.

Aku lari saja di antara kaum tanpa realita,
tapi tetap saja tak ada
akhirnya.



Karang Mulya,
24/12/2010
00:24

Rabu, 31 Juli 2013

Percuma

Bawalah aku yang jauh dari pijakan.
Tak perlu hilang,
tapi cukup menjauh.

Aku tak meminta sejauh peluh meninggalkan pori yang tak kunjung kembali lagi.
Aku tak meminta sepudar keruh yang menjadikan putih menjadi tiada.

Ada surga dalam mimpiku,
ada rasa yang tak perlu kau tanya.
Adakah hidup menjadi tiada ketika mata kehilangan tujuannya?
Percuma
kurasa tatap ke muka,
jika kau sirna tiada.
Percuma
belakang kutatap sempurna,
jika kau terbang diam-diam tanpa bicara.

KARANG MULYA
31/07/2013
23:48

Minggu, 30 Juni 2013

Larikan Aku dari Masa Lalu

Hidupku,
dari angka dan batu-batu.

Adakah ujung dari satu titik itu?
Seperti luka,
yang berujung pada cinta atau kematian.
Seperti cinta,
yang berujung pada luka atau tangisan.
Kita
hidup di antara mati dan sepasang tangisan.

Lalu di mana letak kebahagiaan?
Yang perlahan melemah
dan berakhir pudar.

Tetua berkata pada yang muda,
"Tawa, pernah ada di hidup kita. Luka, selalu ada di depan mata"

Di mana kita bicara?
Suara apa yang seharusnya menggelitik isi telinga?

Aku percaya,
tapi
larikan aku dari masa lalu
seperti mimpi-mimpi
seperti sepi-sepi.
Biarkan kunang-kunang membimbing langkah kaki.

TIDUNG
30/06/2013
09:37

Kubuang yang Hilang

Kubuang yang hilang,
ke tempat jauh
yang tak terbilang.

Mungkin pikiranku berdesakan dengan kenangan.
Mungkin hatiku,
terombang-ambing di atas kandas harapan.

Tapi sudah kurelakan.
Tapi sudah kuikhlaskan.

Kubuang yang hilang,
Ke tempat jauh
yang memenjarakan bayang-bayang.

TIDUNG
30/06/2013
09:23

Rahasia

Ada mata dalam jelaga.
Ada sulam dalam permata.
Sungguh,
kau tak bisa melihat apa yang seharusnya kau lihat.

Maka seruni telah hilang.
Mengambil satu bahasa lain yang juga telah hilang.
Ke mana mereka pergi?
Sampai lupa kembali.

Aku di sini,
Sayang.
Membuang kenangan.

30/06/2013
07:59
TIDUNG

Jumat, 28 Juni 2013

Kemudian,

Senja, teracun gulita.
Hilang dimakan malam,
sirna terlipat kejadian.


Lalu turunlah hujan
dengan rintik bernada geram.
Tapi tak lama dia ada.
Kemudian hilang,
tergerus zaman.

Mereka tuli dalam ingatan.
Dia tertawa dalam keterpurukan.

GONDANGDIA
26/06/2013
18:44

Kamis, 27 Juni 2013

Perempuan di Ambang Malam

Hay, kamu
Perempuan di ambang malam
yang terdiam meniti kerinduan
yang terjebak dalam luka dan kesakitan.

Aku memanggilmu seperti peri kecil yang mendengungkan kesetiaan
mencari batang, dan pijakan untuk sandaran.

Hay, kamu
Perempuan di ambang malam
Bolehkah kita bertemu?

Karang Mulya
26/06/2013
00:18

Kamis, 09 Agustus 2012

Bertahan

Jera? Tentu saja tidak. Ada saatnya memang kita merasa terpuruk, Kawan. Tidak, tidak. Meskipun berkali-kali kau alami keterpurukan, bukan berarti kau harus berhenti dan menyerah. Kita adalah manusia, dan diciptakan untuk bertahan.
Bertahan? Ya, memang itulah yang sejak dulu dilakukan oleh nenek moyang kita. Hey, kau masih mau berkilah? Coba ingatlah, bagaimana mungkin kita bisa ada kalau nenek moyang kita tidak bertahan dari ancaman dinosaurus dan kelaparan? Gila? Haha. Kau yang gila, Kawan. Kau ingin melupakan sejarah? Tidak. Tidak mungkin sejarah bisa dilupakan. Dipalsukan, mungkin.
Ada saatnya kita harus mempercayai sebuah sejarah. Ya, tentu saja jika sejarah itu terbukti kebenarannya. Iya, itu fakta, Kawan. Dan memang itulah prinsip dasar fakta, ‘terbukti kebenarannya!’ Silakan kau percaya jika kebenarannya ada. Ya, bukti, Kawan. Bukti! Bisa kau lihat, kau dengar, kau rasakan, dan… ya aku rasa kau bisa simpulkan sendiri seperti apa bukti itu. Tidak harus besar, tapi jelas harus nyata.
Seumpama kau menemukan ada dua orang yang bertikai hanya karena sebuah koin lima ratus rupiah, apakah kau akan diam saja dan tak melakukan apa-apa? Lima ratus rupiah memang sepele, Kawan. Sangat sepele. Tetapi apakah dua orang manusia itu sepele? Mereka besar. Kuat. Berakal. Dan, kau tahu? Kadang mereka licik. Tapi sudahlah, toh membicarakan sifat buruk manusia, itu artinya membicarakan sejelek apa kita sebenarnya.
Kembali pada dua orang yang bertikai tersebut. Kau akan mendiamkan mereka begitu saja? Kau yakin? Mereka penuh emosi, Kawan. Dan emosi, kadang bisa menggelapkan mata mereka. Di kala emosi, seketika itu juga, manusia lain di hadapannya bisa menjelma binatang najis yang halal untuk dimusnahkan. Kau membiarkan itu? Membuat satu jiwa melayang hanya karena kau menyepelekan pertikaian itu. Kau terlalu terfokus pada uangnya, Kawan. Bukan pada manusianya.
Bukankah manusia lebih berharga dari materi yang sering kita cari? Ya. Lantas mengapa manusia sering terabaikan hanya karena jumlah harta? Kau tahu? Kaya tak menjamin bahagia. Percaya padaku, semangkuk es krim yang telah mencair akan bisa membahagiakan seorang anak yang hidup dari keluarga miskin ketimbang mereka yang terbiasa hidup kaya. Lihat, kebahagiaan itu sebenarnya begitu murah.
Kebahagiaan itu tentang hati, bukan materi. Sayang, kadang kita hidup dalam gengsi yang begitu tinggi. Hati kita dipaksa untuk puas pada sesuatu yang sebenarnya terlalu tinggi untuk kita capai. Hingga kita memaksanya. Padahal, aku ingat apa yang dikatakan salah seorang temanku, “apa yang dipaksakan, hasilnya tak akan pernah baik.”
Oh tidak, mengingat kata-katanya, berarti aku terpaksa mengingat siapa orangnya. Ya, karena memang begitu pikiran itu berjalan. Akan terus menghubungkan dari satu hal, ke hal yang lain. Kadang mereka tak berkaitan, tapi memiliki kesamaan. Ya, aku tak mau pura-pura, kadang apa yang kulakukan sekarang, akan kusamakan dengan apa yang pernah kualami sebelumnya. Seperti sekarang.
Jera? Tentu saja tidak. Ada saatnya memang kita akan mengingat, Kawan. Tidak, tidak. Meskipun berkali-kali kau terjebak dalam situasi yang serupa, bukan berarti kau harus mati dan berlari. Kita adalah manusia, dan diciptakan untuk bertahan. Bukan hanya bertahan dari dinosaurus dan kelaparan, tapi juga ingatan yang menyakitkan.
Kuatlah, Kawan…
Karang Mulya,
06 Agustus 2012
22:59

Rabu, 30 Mei 2012

Tira


            Peperangan yang paling sulit, adalah perang melawan masa lalu. Kau tak akan pernah tahu kapan dia datang. Tetapi kau, selalu dituntut untuk menang.
* * *
            Sebenarnya, ini bukan waktunya aku untuk jatuh cinta. Ya, tentu saja aku pernah jatuh cinta. Sekali. Dan kurasa itu untuk terakhir kalinya. Tetapi waktu memang tak pernah mau mendengar doa-doa dan harapan. Dia mengalir sesuka hatinya, ya, itu pun kalau benar sangkaku bahwa waktu punya hati.
            Tidak, ini benar-benar salahku yang begitu terhanyut oleh waktu. Waktu mengalir, membawa semua cerita dalam hidupku. Dan, tentu saja, dia juga turut serta membawa hati dan perasaanku bersamanya, mempertemukanku dengan seorang gadis pada satu titik waktu.
            Tira namanya, tak ada yang istimewa. Ia hanya manusia biasa. Menjalani hidupnya sebagai hamba Tuhan yang setia. Meminta melalui doa, memandang dengan harapan, dan berjalan tanpa memedulikan sandungan.
            Aku bertemu dengannya dalam situasi yang tidak istimewa. Ya, seperti kataku, dia hanya manusia biasa. Ia menyapa, memperkenalkan dirinya, dan aku menerimanya tanpa maksud yang istimewa. Ia, tak menunjukkan tindak berarti yang bisa membuatku tertawa atau apa saja, semua berjalan begitu saja. Datar.
            Waktu memang pandai mengalir, meliak-liukan alurnya, dan membawa semua yang ada di atasnya tanpa pernah bertanya akan berhenti di mana. Seperti ketika dia membawaku. Seperti ketika dia membawa Tira. Seperti ketika dia membawa kami. Seakan kami adalah daun kering yang tak berdaya akan dibawa ke mana. Seakan kami adalah dua titik, yang hanya bisa dipertemukan oleh satu garis lurus. Kau benar, waktulah garis lurus itu. Dan sebagaimana garis-garis pada umumnya, waktu tidak pernah berbalik untuk sekedar menemui aliran yang telah ditinggalkannya.
            Entah bagaimana caranya, tapi Tira mampu menembus masa laluku. Bukan hanya itu, dia juga mengambil bagian yang telah lama kuanggap hilang. Ia memiliki apa yang selama ini kucari. Ia memegang apa yang dapat membuatku mengubah pemikiranku. Ia menyeretku masuk dalam sebuah peperangan. Kau tahu? Peperangan yang paling sulit adalah perang melawan masa lalu. Kau tak akan pernah tahu senjata apa yang akan bisa membuatmu menang, tapi mau tidak mau, kau tetap harus memenangkan peperangan itu.
* * *
            “Jadi, kau memang benar-benar tidak bisa memahami perasaan wanita? Kau sadar perkataanmu itu benar-benar menyakitinya?”
            “Tidak, aku sudah lupa bagaimana cara memahami perasaan wanita.”
            “Lupa? Berarti kau pernah bisa, bukan?”
            “Pernah. Tapi aku tak mau mengingatnya.”
            “Tidak mau? Kau ini aneh.”
            Kemudian aku berjalan meninggalkan Tira begitu saja. Aku tak peduli meski ia mengatakan bahwa aku aneh. Tak ada pengaruhnya bagiku. Jelas, karena ia bukan siapa-siapa bagiku.
            “REGIAN! REGIANSYAH CHANDRASENA!”
            Seketika aku menghentikan langkahku. Nama itu, ya, nama itu…
            “Kenapa kau diam? Hah? Ingat sesuatu?”
            Ternyata Tira mengikutiku.
            “Dengar baik-baik,” aku mengacungkan telunjukku ke muka Tira, “namaku  DEWATARA, DEWATARA BALASETA! Sekali lagi kau panggil aku dengan nama-nama yang lain, terutama nama itu,” aku memperlihatkan telapak tanganku, “telapak ini tak akan segan-segan menghajar wajahmu yang sok manis itu!”
            Tira menatapku. Aku melihat matanya mulai berkaca.
            “Maaf,” kataku pelan. “Aku begitu emosi. Maafkan aku.”
            “Kau tahu, aku memang tidak pernah tahu ada apa dengan masa lalumu,” air mata mulai mengalir di pipi Tira, “tapi tidak seharusnya kau bersikap seperti ini! Lihat, belum ada satu jam yang lalu kau menyakiti perasaan Nura dengan kata-katamu, dan sekarang, LIHAT AKU!”
            Tira tak mampu lagi membendung kesedihannya, dia menangis di hadapanku. Aku tak tahu harus berbuat apa. Beberapa orang yang melintas, kulihat mencuri pandang ke arahku dan Tira. Ya, mungkin di mata mereka, kami terlihat seperti sepasang kekasih yang tengah asyik bertengkar.
            “Tira, dengarkan aku,” aku memegang kedua bahu Tira, dan berusaha berbicara selembut mungkin, “maafkan aku,” Tira memandangku, dan entah kenapa aku malah merasa gugup. “Hmm… aku tahu aku salah, maafkan aku.”
            Entah kenapa, aku seperti kehilangan kata-kata. Tak ada rangkaian kata apapun yang terlintas dalam pikiranku. Dan hanya itu saja yang bisa aku katakan.
            “Kau tahu, peperangan yang paling sulit adalah perang melawan masa lalu. Kau tak akan pernah tahu dari mana dia akan muncul. Tapi, hal yang paling benar adalah menghadapinya, bukan menghindarinya.”
            Tira benar-benar telah menamparku. Aku terdiam menatapnya. Aku tak tahu harus berkata apa.
            “Sudahlah, mungkin ini salahku juga yang terlalu mencampuri urusanmu. Tapi ingatlah, Dewatara, kau itu laki-laki, kau harus bisa memahami perasaan wanita. Kadang, hati wanita bisa hancur hanya karena dua atau tiga kata saja.”
            Tira menurunkan kedua tanganku yang sedari tadi nyaman berada di bahunya. Dia tersenyum sambil menahan isak tangisnya, dan kemudian berlalu meninggalkanku.
            Tira benar, peperangan yang paling sulit adalah perang melawan masa lalu. Dan seperti kataku, kau tak akan pernah tahu senjata apa yang dapat membuatmu menang, tapi kau harus menang. Dan Tira memberi tahuku, untuk menang aku harus mengahadapinya, bukan menghindarinya.

Dan kisah ini, masih akan terajut….

Minggu, 08 April 2012

Mimpi, dan mati.

Sayap-sayap burung patah membawa mimpi-mimpi,
mimpi,
yang telah menjadi tahi.

Akal busuk merasuk di sela rusuk,
melumat hati,
dan mati.

Apakah indah semua yang berwarna merah?
Ataukah
sudah bahagia semua yang tergadai dengan darah?

Aku bersama seribu luka yang tak kunjung mengering,
basah, dan lengket berbau anyir.
Meski kerak telah kupaksakan hadir tanpa getah bening,
namun kulit
tak seperti mulut seorang penyair.

Hatiku tersiram satu belanga air samudra.
Bukan luka, tapi hati.
Tepat hati,
tanpa selaput tak berwarna.

Sudahlah, jangan menangis
sayang
bukan kau yang membuatku berhenti bermimpi,
dan bukan kau yang membuatku mati.


Tangerang,
Tanpa tetes air mata.
09/02/2010
15:34

Minggu, 25 Maret 2012

Aku Mencintaimu Seperti Rangkaian Alfabet yang Terbatas pada Sebuah Kertas

Aku mencintaimu seperti rangkaian alfabet yang terbatas pada sebuah kertas. Yang kuhafal dari a sampai z, ketika aku kecil. Tanpa pernah tahu apa artinya. Tanpa pernah tahu apa maknanya. Dan tak pernah peduli apa gunanya.
            Mungkin aku sudah terlalu munafik bagi dirimu. Ya, aku mencintaimu. Tapi yang kau lihat, sepertinya aku membencimu. Maaf, aku tak bermaksud untuk membuang rasa cintamu. Aku tahu kau begitu mencintaiku, bahkan melebihi dirimu sendiri. Maka, memang sungguh tak pantas rasanya, aku yang mencintaimu (yang juga melebihi diriku sendiri) harus berpura-pura membencimu. Sekali lagi maaf, aku tak bermaksud untuk memaksamu melupakan diriku. Sungguh, karena aku pun tahu bahwa kau tak mungkin bisa melupakan diriku. Kita terlalu dekat untuk dijauhkan. Ya. Itulah yang aku rasakan.
            Percayalah, cinta adalah kata lain dari menyatukan perbedaan. Tak mungkin ada dua orang yang jatuh cinta tanpa memiliki perbedaan. Kau ingat pertama kali kita bertemu? Kau begitu cerewet. Dan aku, hanya menanggapimu dengan pandangan dingin. Aku tak pernah suka dengan orang yang selalu berbicara. Bagiku orang itu seperti seekor anak burung yang selalu menantikan induknya memberikan makanan ke mulutnya. Tapi untuk orang seperti ini, entah apa yang akan membuatnya diam. Pernah suatu ketika aku menanggapi pembicaraan orang semacam ini, kupikir dia akan berhenti berkicau begitu kuturuti keinginannya untuk ngobrol, namun yang terjadi dia malah semakin membuatku pusing dengan topik pembicaraan yang meluas. Tapi tenang, itu bukan dirimu, sayang.
            Entah apa yang membuatmu suka padaku, dan entah apa yang membuatku suka padamu. Kita terhanyut begitu saja seperti sepasang balok kayu yang tak mampu berbuat apa-apa dalam derasnya aliran sungai. Padahal bukankah sudah kukatakan bahwa aku adalah mantan playboy yang mampu menjalin hubungan dengan tujuh wanita sekaligus? Tapi dengan senang hati kau membuka pintu hatimu dan berkata: “aku bisa menerimamu apa adanya”. Kau tersenyum. Mengalahkan senyuman Monalisa yang menyimpan begitu banyak misteri. Dan senyuman itu pula yang akhirnya merubah diriku menjadi orang yang bertahan menjalin hubungan dengan seorang wanita dengan waktu yang lama. Dan itu dirimu.
***
            Aku mencintaimu seperti rangkaian alfabet yang terbatas pada sebuah kertas. Yang mulai kucoba untuk kutulis sendiri di atas bukuku. Yang kuukir mengikuti titik-titik kecil yang dituliskan ibuku. Namun aku masih tak peduli apa gunanya.
            Tidak, teruslah membaca. Aku masih ingin bercerita denganmu. Karena kau ingat, sudah lama kita tak banyak bercerita seperti ini. Akhir-akhir ini, kita terlalu sering mementingkan ego kita masing-masing. Kau ingin didengarkan, dan aku pun begitu. Aku ingin menanyakan sesuatu, dan kau pun begitu. Kau tak pernah mengalah, dan aku juga tentu saja tak mau mengalah. Padahal, kau ingatkan bahwa cinta adalah nama lain dari menyatukan perbedaan? Ya, perbedaan kecil saja. Seperti saat aku mendengarkan, ketika kau ingin didengarkan. Seperti ketika kau menjawab, setelah aku bertanya. Ya, sekecil itu saja. Itu harmonis namanya.
            Kau ingat ketika dulu kita berjalan-jalan ke Ancol? Waktu itu kita sedang sama-sama sakit. Dan kita juga tidak pernah merencanakan itu sebelumnya. Tapi kita merasa bahagia. Kita tak mementingkan diri kita sendiri. Yang ada dibenak kita hanyalah, kita bahagia. Bukan aku bahagia, atau kau bahagia.
            Mungkin kini hal itulah yang sudah kita lupakan. Cinta selalu berbicara tentang kita. Bukan hanya aku, dan bukan hanya kau. Selama ini terlalu sering kata-kata: “kamu ngertiin aku dong!” keluar begitu saja dari mulut kita ketika kita sedang berdebat mempertahankan kebenaran diri kita masing-masing. Tidak sayang, jangan merenung. Aku pun melakukan  hal yang sama sepertimu. Kau jangan merasa bersalah, naikkan lagi kepalamu, tetaplah baca catatanku ini.
            Menyenangkan juga bercerita seperti ini. Mengingatkan kita pada memori terlupa. Memori yang sungguh indah dan membuat kita berkata: “inilah cinta!”. Tapi mengapa hanya dulu saja kita bisa berkata seperti itu? Sekarang, kata-kata itu hampir tak pernah muncul dari bibir mungilmu. Bibir yang rasanya ingin kukulum ketika kau mengatakan itu. Aku tak peduli kita berada di mana saat itu, tapi sungguh, aku ingin melakukan itu.
            Tapi, kau ingat ketika kau menuduh melakukan apa yang tidak aku lakukan? Sungguh, aku ingin menendangmu ketika itu. Aku mencintaimu seperti bayang-bayang yang berlindung dari terang. Tapi mengapa kau tega menuduhku melakukan itu? Bukankah kau yang bilang bahwa kau bisa menerimaku apa adanya? Seharusnya, kau juga bisa menerimaku untuk menduakanmu!
            Oh, tidak. Maafkan aku, sayang. Aku terlalu emosi menceritakan bagian ini. Dan seharusnya kau tahu, karena itulah aku mulai berpura-pura membencimu. Karena itulah aku pura-pura mengkhianatimu. Sungguh, aku tak pernah terima dikatakan pendusta. Jika memang aku adalah pendusta, maka kau tak pantas menjalin cinta denganku. Cukup sudah kita lalui hubungan yang tak bisa kau percaya ini. Aku tahu awalnya memang aku seorang pendusta, tapi percayalah kini aku telah menjadi seorang yang setia.
            Mungkin aku sudah terlalu munafik bagi dirimu. Ya, aku mencintaimu. Tapi yang kau lihat, sepertinya aku membencimu. Maaf, aku tak bermaksud untuk membuang rasa cintamu. Aku tahu kau begitu mencintaiku, bahkan melebihi dirimu sendiri. Maka, memang sungguh tak pantas rasanya, aku yang mencintaimu (yang juga melebihi diriku sendiri) harus berpura-pura membencimu. Sekali lagi maaf, aku tak bermaksud untuk memaksamu melupakan diriku. Sungguh, karena aku pun tahu bahwa kau tak mungkin bisa melupakan diriku. Kita terlalu dekat untuk dijauhkan. Ya. Itulah yang aku rasakan.
            Aku mencintaimu seperti rangkaian alfabet yang terbatas pada sebuah kertas. Yang kutata hingga menjadi sebuah kata. Yang akhirnya kutahu untuk apa gunanya. Hingga jadilah sebuah cerita yang tak pernah sesuai dengan fakta.

Karang Mulya,
01:13