![]() |
| Suasana diskusi di Auditorium Koran SINDO. |
Novel yang bertemakan cinta ini mengisahkan tentang Sarif, seorang pemuda yang berasal dari Pontianak, bersama Nur, teman perempuan Sarif yang lahir dan tinggal di kota yang sama. Mereka saling mencintai tetapi tidak mengutarakan perasaan mereka masing-masing. Hingga tiba saatnya Sarif harus pergi ke Jakarta selama empat tahun demi melanjutkan pendidikan di bangku kuliah, sedangkan Nur tetap tinggal di tempat kelahirannya, Pontianak, untuk menjaga ibunya.
Sarif mempunyai ambisi untuk menjadi seorang penulis dan mempunyai intelektual yang tinggi. Sedangkan Nur, perempuan yang ragu untuk menggapai mimpinya dikarenakan Nur harus merawat ibunya yang sakit, padahal dia memiliki bakat bermain biola seperti bakat yang dimiliki ayahnya sebagai pemain biola profesional di kampungnya. Di dalam novel ini, Bara menambahkan peran Mei sebagai wanita lain yang hadir di hidup Sarif. Mei digambarkan sebagai sosok perempuan etnis China berkulit putih, berparas cantik, dan memiliki tubuh semampai, yang membuat banyak lelaki menyukainya. Mei merasa tertarik dengan Sarif karena mereka mempunyai hobi yang sama. Selain itu, ia juga dapat berdiskusi tentang banyak hal dengan Sarif.
![]() |
| Foto bersama peserta diskusi. |
Bara mengatakan, novel ini “tidak sengaja” tercipta karena ia gagal memenuhi deadline yang ditentukan oleh GagasMedia untuk proyek Indonesiana. “Pada awalnya Mbak Iwied, sapaan akrab Widyawati Oktavia, menawarkan saya untuk ikut serta dalam proyek Indonesiana, di mana saya akan menciptakan kisah yang berlatarkan Kota Pontianak yang merupakan kota kelahiran saya. Sayangnya, saya gagal memenuhi deadline yang telah ditentukan. Sehingga saya batal untuk ikut serta dalam proyek tersebut. Mbak Iwied kemudian mengusulkan agar cerita yang saya buat dijadikan novel saja, akhirnya terbitlah novel ini,” ungkap Bara saat diskusi berlangsung.
Bara berpendapat bahwa kisah dua perempuan yang saling memperebutkan cintanya itu lebih seru dan bisa memperpanjang jalan cerita menjadi beberapa adegan. “Berbeda jika novel dengan cerita dua orang pria yang memperebutkan satu perempuan, itu akan berakhir singkat karena kalau tidak bertengkar, mereka mundur salah satu,” ujarnya.
Mbak Iwied, selaku editor novel Jika Aku Milikmu mengatakan, Bara merampungkan novel ini dalam kurun waktu enam bulan. Penulis buku Penjual Kenangan ini menambahkan bahwa GagasMedia sangat terbuka untuk menerima penulis-penulis baru.
“Siapa saja boleh mendaftarkan karyanya, baik berupa kumpulan cerpen maupun novel. Silakan buka www.gagasmedia.net untuk informasi lebih lanjut. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, di antaranya calon penulis harus menulis minimal 75 halaman. Setelah itu editor akan mengulas selama kurang lebih 3–5 bulan. Kemudian tim editor akan menghubungi penulis untuk tahap selanjutnya,” ungkap Mbak Iwied.
Nah, bagi kalian yang senang menulis cerita-cerita fiksi dan cerpen, bisa mengirimkan karyanya melalui website GagasMedia. Mbak Iwied menyarankan, alangkah baiknya jika calon penulis membaca terlebih dahulu karya-karya penulis lain yang bukunya telah diterbitkan oleh GagasMedia. Agar calon penulis mendapatkan referensi mengenai karya yang sesuai dengan standar GagasMedia.
Novel Jika Aku Milikmu telah dijual di toko-toko buku seluruh Indonesia dan dijual dengan harga Rp59.000. Silakan klik URL ini http://gagasmedia.net/atikel-buku/34-buku-baru/1447-jika-aku-milikmu untuk informasi lebih lanjut.
Sumber: http://moeslema.com/en/bedah-buku-jika-aku-milikmu-karya-bernard-batubara-2/ (dengan perubahan)


