Selasa, 31 Mei 2016

Kejutan Memesona Seorang Ove

Editor Bahasa KORAN SINDO Nicky Rosadi, blogger Trully Rudiono, dan editor sekaligus peresensi Teguh Afandi menjadi narasumber dalam diskusi novel A Man Called Ove yang digelar Selasa (17/5) lalu di aula Gedung SINDO, Jakarta.


Noura Books kembali menghadirkan novel berkualitas yang ditulis oleh seorang penulis asal Swedia, Fredrik Backman, berjudul A Man Called Ove. Berawal dari blog, kisah fiksi tentang seorang laki-laki tua bernama Ove (59) akhirnya ditulis ke dalam sebuah novel. 

Kisah Ove merupakan kisah yang menguak banyak makna, tentang laki-laki tua tempramen yang memiliki sejumput cinta terhadap orang-orang di sekitarnya. Diskusi novel A Man Called Ove digelar Selasa (17/5) lalu di aula Gedung SINDO, Jakarta. Dalam diskusi tersebut, blogger dan pegiat buku Truly Rudiono menilai, novel A Man Called Ove memberikan banyak kejutan yang tidak terduga. 

Kejutan tersebut hadir dari karakteristik Ove yang dinilainya cukup perfeksionis. Tokoh Ove dalam novel digambarkan sebagai tokoh yang tempramen, namun juga memiliki kelembutan hati yang ditunjukkan dengan cara berbeda. ”Ove merupakan tokoh yang perfeksionis. Ia tempramen, tapi di satu sisi sangat penyayang,” katanya. 

Di dalam banyak adegan, Ove merupakan sosok yang saklek dan sangat pemarah, termasuk pada kucing peliharaannya. Namun di sisi lain, karakter Ove justru memberikan kejutan yang sangat tidak terduga. Kejutan tersebut bisa berupa cara menunjukkan kasih sayang yang berbeda dari orang kebanyakan. Baginya, Ove merupakan tokoh utama yang sangat hidup dan memberi warna yang komplit dalam alur novel. 

Sebagai orang tua, baginya, tingkah dan karakteristik tokoh Ove kadang kala menggelitik, menggemaskan, sekaligus juga membuat pembaca terenyuh. Pasalnya, sebagai orang tua yang hidup dengan prinsip dan pola pikir yang dipercaya dan telah lama dianutnya, budaya baru dalam dunia sosial kini (gadget), kurang dapat dijamahnya. Hal itu, menurutnya, menimbulkan sisi humor yang apa adanya dan mengingatkan kita akan kehidupan para lansia di dunia nyata. ”Ove merupakan sosok yang berbeda dari segi sifat. Namun, di sisi lain Ove juga mengingatkan kita akan nilai humor yang terjadi begitu saja,” katanya. 

Di sisi lainnya, kasih sayang Ove yang ditunjukkan dengan hal yang tidak biasa bagi setiap orang pada umumnya, membuat beberapa sisi dari alur cerita A Man Called Ove cukup menyentuh. Menariknya, Ove merupakan sosok yang sama sekali tidak mengharapkan kata terima kasih ataupun penghargaan lainnya. 

Ove, baginya, adalah tokoh kompleks sekaligus romantik. Sementara, editor Noura Books Yuke Ratna menyatakan, novel A Man Called Ove merupakan salah satu novel yang telah laku terjual sebanyak 500.000 eksemplar di Swedia. Dengan jumlah penjualan yang cukup signifikan tersebut, Noura Books pun menghadirkannya ke dalam bahasa Indonesia. 

Menurut Yuke, pertimbangan novel terjemahan A Man Called Ove hadir di Indonesia bukan hanya mengacu pada sisi nilai penjualan. Lebih dari itu, kisah tentang Ove merupakan salah satu kisah yang cukup inspiratif dan dapat memberikan perspektif baru. Perspektif baru itu salah satunya hadir dengan latar Swedia yang jarang ditulis oleh novelis-novelis populer di dunia. 

Yuke menilai, kisah Ove dengan latar Swedia dapat memberikan perspektif budaya yang baru tentang masyarakat dan kehidupan masyarakat Swedia yang berbeda dengan negara-negara Barat lainnya, seperti Inggris ataupun Amerika. ”Kultur masyarakat Swedia dengan negara Barat lainnya sangat berbeda, di sisi inilah pembaca barangkali bisa mendapatkan bayangan lebih jauh akan itu (kultur Swedia),” katanya. 

Ia menjabarkan, kultur masyarakat Swedia yang cenderung acuh dan individualistis secara garis besar merupakan bayangan akan sosok Ove. Namun, Ove memiliki nilai perbedaan dari kesemuanya. Sikap keukeuh dan tempramen Ove yang banyak ditonjolkan dalam banyak bab justru menghadirkan kejutan di akhir kisah. Kejutan akan sikap Ove terhadap istrinya, Sonja, ataupun bagaimana seorang Sonja bisa menerima Ove dengan sangat terbuka. 

Perlu diketahui, Sonja merupakan sosok wanita pada umumnya, sosialistis dan pandai membangun komunikasi. Sementara Ove merupakan kebalikannya. Ove dan Sonja merupakan dua kutub yang berbeda, namun herannya dapat bertemu dalam satu garis yang disebut dengan rumah tangga. 

Menguak kisah cinta keduanya, Yuke menilai, pembaca akan tahu apa kejutan dan romantisme Ove dan Sonja jika membaca novelnya hingga tuntas. ”Ove dan Sonja itu pembawaannya berbeda. Mereka dua kutub yang berlainan, tapi anehnya dapat bersatu,” katanya. 

Tips Menulis Resensi 

Selain membedah buku A Man Called Ove , diskusi tersebut juga menyajikan tips dan trik dalam menulis resensi. Editor Noura Books dan penulis resensi buku Teguh Afandi menilai, terdapat banyak hal yang harus dipegang teguh dalam menulis resensi. Setiap penulis resensi menurutnya memiliki kriteria tersendiri dalam penulisannya. Akan tetapi, secara garis besar, seluruh penulis resensi harus mengacu pada kode etik yang ada. 

Meski kode etik dalam penulisan resensi pada setiap media berbeda, Teguh menilai, secara garis besar terdapat satu kode etik yang paling umum yang harus ditaati para penulis resensi, yakni menghindari plagiasi. Plagiasi merupakan tindakan tercela dalam karya tulis. 

Selain bukan merupakan proses berpikir mandiri, plagiasi juga akan berimbas pada kredibilitas si penulis. ”Yang paling umum, setiap penulis resensi tidak boleh plagiat,” katanya. Selain menjabarkan mengenai kode etik, Teguh juga menjabarkan tentang tips dan trik menulis resensi agar dapat dimuat di media. *imas damayanti

Sumber: http://www.koran-sindo.com/news.php?r=0&n=16&date=2016-05-29

Rabu, 13 April 2016

Bagian II: Anak Perantara

Alila, ibu Dewa, meminta ayahnya untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Dia merasa, ada sesuatu yang perlu diketahui terkait anaknya.

“Tidak ada apa-apa, Anakku,” ayahnya menjawab singkat.

“Lalu, apa maksud kata-kata Ayah tadi?”

“Tidak ada maksud apa pun,” kata Ayahnya yang kemudian berjalan ke dapur. Kemudian terdengar bunyi benturan gelas dan suara air yang dituang dari teko.

Sambil menahan rasa gelisah, Alila menunggu ayahnya kembali ke ruang ibadah. Alila hafal betul gelagat ayahnya. Ayahnya tidak mungkin menjawab sesingkat itu dan meninggalkannya begitu saja sebelum pembicaraan benar-benar selesai jika memang tidak ada yang disembunyikannya.

“Ayah, aku bangga kepada Ayah yang bisa membesarkanku sejak umur 12 tahun,” kata Alila begitu ayahnya kembali ke ruang ibadah. “Tapi apakah Ayah mau menghancurkan kebanggaanku kepada Ayah hanya karena masalah ini? Ayah, aku mohon, katakanlah. Apa yang sebenarnya terjadi pada anakku, Yah?”

Ayahnya menarik napas panjang. Setelah sempat menatap mata Alila selama beberapa saat, Akhirnya dia mau bicara.

“Begini, Alila. Sebenarnya ada yang aku rahasiakan dari dirimu tentang keluarga kita,” kata ayahnya mengawali pembicaraan.

“Maksud Ayah?”

“Sebenarnya, kau dilahirkan untuk tidak perlu mengetahui rahasia ini. Tapi aku rasa, tidak ada salahnya jika aku memberitahukanmu hal ini sekarang.”

Alila mengernyitkan dahinya. Tatapan tajamnya tertuju kepada ayahnya.

“Tadinya, kupikir, aku bisa mengubah takdir. Akan tetapi, aku tak bisa mengubah apa yang seharusnya terjadi,” kata ayahnya melanjutkan.

Alila masih diam menatap ayahnya.

“Dulu, ketika hanya ada satu daratan dan satu lautan. Ketika dunia benar-benar sepi. Ketika dunia hanya dihuni oleh sepasang manusia. Dan, ketika hanya ada satu setan yang menggoda. Ya, itulah waktu ketika Adam dan Hawa baru saja terusir dari surga. Itulah waktu, ketika Tuhan baru saja mengabulkan permintaan Iblis untuk terus menggoda manusia dan keturunannya hingga kiamat.

Kita semua tahu bahwa Adam dan Hawa terpisah jauh di bumi ketika diturunkan. Tapi apakah kau tahu sebelum bertemu Hawa, Adam sempat bertarung dengan Iblis?”

Alila terdiam. Dia hanya menggeleng tanpa mengeluarkan suara apa pun. Telinganya fokus menyimak, dan matanya tak pernah lepas memandang ayahnya.

“Sebenarnya,” kata ayahnya kembali bercerita, “Adam yang baru saja jatuh ke bumi langsung menantang Iblis. Iblis menerima Adam. Seketika itu juga, Iblis langsung menghajar Adam. Pertarungan pun tak bisa terhindarkan. Bertahun-tahun lamanya pertarungan itu berlangsung; tanpa henti, tanpa istirahat, dan tanpa ada yang menyerah. Bagi mereka, hanya ada satu tujuan yang pasti; menang! Tak ada yang berani memisahkan mereka. Bahkan para malaikat pun hanya bisa berdoa agar pertarungan itu segera diakhiri.

Akhirnya, pertarungan berakhir ketika Adam diberikan sebuah pedang dari surga. Pedang yang dijatuhkan dari langit itu mampu menebas tanduk, sayap, dan ekor Iblis. Iblis sekarat. Dia tak berdaya. Kekuatannya pun melemah. Kemudian, Iblis melarikan diri dari pertarungan. Setelah pertarungan selesai, barulah Adam mencari Hawa.”

“Lalu, apa hubungan cerita ini dengan keluarga kita, Ayah? Bukankah seluruh manusia adalah keturunan Adam?”

“Kau benar. Setelah peperangan itu, Adam dan Hawa bertemu hingga akhirnya banyak memiliki anak. Yang kita ketahui, semua anak Adam lahir kembar. Namun sebenarnya, ada satu anak yang lahir tanpa memiliki kembaran. Anak inilah yang kemudian dihasut oleh Iblis untuk membunuh Adam. Anak itu adalah Dajjal.”

“Dajjal? Bukankah Dajjal adalah makhluk yang bangkit pada hari akhir?” tanya Alila heran.

“Itu kata kuncinya! ‘Bangkit’. Bukan diciptakan pada hari akhir, kan? Kaum setan membutuhkan kemampuan Dajjal untuk menguatkan kerajaan mereka. Dajjal punya keahlian yang baik dalam menghasut, kau tahu dari mana kekuatannya berasal?”

Alila tak menjawab sepatah kata pun.

“Iblis. Dajjal diberikan keahlian itu untuk menghasut saudara-saudaranya menjadi pengikut Iblis. Dajjal juga yang menghasut saudara-saudaranya untuk membunuh ayah mereka. Semua kata yang keluar dari mulut Dajjal seakan sebuah kebenaran. Itu sebabnya, hampir setengah dari seluruh anak Adam, terhasut oleh Dajjal.”

“Setengah keturunan?” Alila terperangah.

“Ya. Mereka bersekongkol membunuh ayahnya sendiri. Bayangkan, betapa busuknya mereka. Sayang, hanya sedikit anak Adam yang mengetahui pembunuhan itu. Yang lainnya, hanya tahu bahwa ayahnya mati dimakan binatang buas.

Mereka yang mengetahui pembutuhan itu akhirnya memusuhi Dajjal. Mereka menyadari bahwa Dajjal hanyalah seorang pembohong besar yang tega membunuh ayahnya sendiri. Mereka kemudian berniat menyingkirkan Dajjal. Mereka tahu, Dajjal adalah kaki tangan Iblis. Mereka yang memusuhi Dajjal, dikenal dengan Kelompok Aradith. Penamaan itu dikarenakan salah seorang dari kelompok itu, yang bernama Aradith, secara terang-terangan mengacungkan pedang ke muka Dajjal.

Sebelum melawan Dajjal, Kelompok Aradith memohon kepada Tuhan agar diberikan kemampuan untuk memisahkan kekuatan setan dari jasad manusia dan menghancurkan kekuatan itu. Tuhan pun mengabulkan permohonan baik mereka. Mereka mampu menarik dan mengurung kekuatan setan ke dalam gelembung yang sekeras baja. Di dalam gelembung itu, kekuatan setan dilenyapkan.

Sedikit demi sedikit, pengikut Dajjal pun bisa dilenyapkan kekuatan setannya. Namun tidak dengan Dajjal. Kekuatannya terlalu besar tak mampu dilumpuhkan. Kekuatan setan telah menyatu dengan Dajjal. Dajjal tak bisa dikembalikan menjadi manusia biasa.

Kelompok Aradith akhirnya memojokkan Dajjal pada sebuah jurang yang sangat curam. Dajjal jatuh ke dalamnya. Tak terdengar suara dentuman ketika Dajjal terjatuh di jurang itu. Kelompok Aradith bersama-sama menimbun jurang itu dengan tanah dan batu di sekitar mereka. Dajjal dikubur hidup-hidup. Namun hingga kini, tak ada yang tahu di mana kuburan Dajjal itu selain Kelompok Aradith.”

“Kalau begitu, bagaimana cara setan membangkitkan Dajjal?” tanya Alila yang terlihat penasaran.

“Dajjal yang telah memiliki kekuatan setan, ternyata tidak bisa mati begitu saja. Setelah Dajjal dikubur hidup-hidup, beberapa anak Iblis datang menyerang Kelompok Aradith. Mereka memaksa Kelompok Aradith menunjukkan di mana Dajjal dikuburkan. Tapi Kelompok Aradith tidak pernah mau memberitahukannya. Hingga akhirnya, dari salah satu anak Iblis yang telah sekarat, Kelompok Aradith tahu bahwa ada cara lain untuk memanggil kembali kekuatan setan yang ada pada Dajjal. Mereka cukup mengumpulkan kekuatan setan mereka hingga sempurna. Jika kekuatan mereka sudah sempurna, mereka cukup melaksanakan ritual pembangkitan Dajjal. Dengan begitu, Dajjal akan bangkit dan datang kepada mereka dengan sendirinya.”

“Bagaimana mereka mengumpulkan kekuatan itu?”

“Seperti benih yang ditanam pada tanah,” jawab ayah singkat.

“Maksud ayah?”

“Manusia adalah tanah dan kekuatan setan itu adalah benihnya. Semakin baik benih itu disiram dan dipupuk, maka kekuatan setan itu akan semakin kuat. Penyiram dan pupuk untuk benih itu adalah kebencian dan kedengkian di hati manusia. Maka tak heran, benih ini bisa tumbuh subur pada diri manusia dengan sedikit bisikan setan,” kata Ayah sambil menunjuk dadanya.

***

Malam semakin larut, namun pembicaraan Alila dan ayahnya masih berlanjut.

“Kita adalah keturunan Aradith, Alila. Kelompok yang bertugas dan menghalangi kebangkitan Dajjal,” kata ayah kembali bercerita.

“Lalu, kenapa Aku tak memiliki kekuatan yang seharusnya dimiliki oleh seorang keturunan Aradith?”

“Kekuatan Aradith hanya muncul berselang, yaitu pada setiap keturunan ganjil.”

“Jadi, anakku memiliki kekuatan Aradith?” tanya Alila yang tak sabar menanti inti ceritanya.

Ayah sempat terdiam. Alila berkali-kali memanggilnya hingga akhirnya ia mau bicara.

“Masalahnya, tanda yang muncul dari anakmu bukanlah kekuatan Aradith, tapi kekuatan setan,” kata ayah sambil menunduk menghindari tatapan Alila.

Alila tercengang. Dia tak bisa berkata apa-apa. Mulutnya terngaga dan matanya terbelalak.

“Tapi, tadi Ayah bilang, kita adalah keturunan Aradith. Mengapa anakku malah memiliki kekuatan setan?” tanya Alila. Terlihat matanya mulai berkaca.

“Begini, Alila. Menurut Mushaf Aradith, kelangsungan Aradith akan berakhir pada saat di mana seorang keturunan Aradith memiliki kekuatan setan. Artinya, anak itu adalah keturunan Aradith terakhir, dan juga anak berkekuatan setan terakhir. Anak ini memiliki kekuatan yang lebih kuat dari anak yang memiliki kekuatan setan lainnya. Anak inilah yang kemudian disebut sebagai anak perantara.”

“Tidak mungkin. Ayah, Aku tidak mewarisi kekuatan setan. Yang aku warisi adalah kekuatan Aradith. Maka tidak mungkin anakku memiliki kekuatan setan, Yah,” kata Alila masih tidak percaya.

“Ya, kau benar. Kau tidak mungkin mewarisi kekuatan setan. Tapi, sampai saat ini mungkin kau tidak pernah tahu bahwa kau telah menikahi seorang pemuja setan,” ucap ayah lirih.

Seketika Alila mematung. Matanya tak berkedip menatap ayahnya. Mulutnya sedikit terbuka. Terdengar setengah bisikkan keluar dari mulutnya, “Suamiku.... ” Belum sempat Alila meneruskan kata-katanya, ayahnya telah lebih dulu menyelesaikan kalimatnya.

“Ya. Suamimu adalah seorang pemuja setan,” kata ayah singkat.

Alila kembali mematung. Seolah ada anak panah yang menghujam jantungnya. Dadanya terasa sesak, tapi dia masih bisa merasakan napasnya tetap masuk ke tubuhnya secara perlahan. Hatinya berubah kalut. Pikirannya kusut. Malam yang semakin larut seolah tak dapat menenangkan hatinya. Nyanyian para jangkrik bahkan tak dapat menjernihkan pikirannya. Bintang memang begitu terang, tapi hari esok tetaplah sebuah misteri.

***

Jumat, 01 April 2016

Workshop Penulisan dan Bedah Buku The Girl on The Train

Nicky Rosadi (Kiri) bertindak sebagai moderator, mendampingi Shinta (tengah) dan Truly (kanan) dalam bedah buku The Girl on The Train, Kamis (28/1/2016), di Gedung SINDO, Jakarta.

Dari kereta, setiap hari si tokoh utama mau tidak mau melihat sebuah rumah di dekat stasiun pemberhentian. Celakanya, rumah tersebut adalah bekas rumahnya. Kini rumah itu dihuni mantan suami bersama istri baru dan anaknya.


Noura Books bersama Koran SINDO bekerja sama menyelenggarakan peluncuran buku dan workshop menulis, Kamis (28/1), di Gedung SINDO, Jakarta. Sejumlah mahasiswa dari kampus-kampus di Jabodetabek turut hadir dalam kegiatan yang salah satunya bedah buku novel terjemahan karya penulis Paula Hawkins berjudul The Girl on the Train.

Buku tersebut dinilai banyak menyajikan kejutan dalam tiap lembar saat membacanya. Hal itu diungkapkan oleh blogger dan penggiat buku Truly Rudiono saat diskusi buku The Girl on The Train. Menurut Truly, novel karya Paula mengundang pembaca untuk tidak sabar membaca dari halaman ke halaman berikutnya. Tak ayal, dirinya hanya butuh waktu tak terlalu lama untuk menghabiskan dalam membaca buku The Girl on The Train.

Kejutan yang dimaksud Truly dalam tiap-tiap lembar dari buku tersebut adalah alur cerita yang tidak terduga. Terkadang menimbulkan tokoh-tokoh kejutan dan cerita yang tidak dapat ditebak sedari semula. Namun, plot cerita begitu terstruktur dan tidak lepas dari pakem-pakem penulisan. Sehingga menurutnya, novel The Girl on the Train menyajikan kisah yang menarik dan komplet. “Novel ini menyajikan banyak kejutan. Banyak muncul tokoh-tokoh kejutan yang tidak kita sadari sebelumnya,” katanya.

Mengenai kereta sebagai latar cerita, Truly menceritakan bahwa kereta menjadi sebuah medium yang sangat menyakitkan bagi si tokoh utama (wanita). Karena dari kereta, si tokoh utama mau tidak mau melihat sebuah rumah di dekat stasiun pemberhentian.

Celakanya, rumah tersebut adalah bekas rumah si tokoh utama yang dihuni oleh mantan suami bersama istri baru dan anak-anaknya. Di dalam desain sampul novel, terdapat percikan darah dan sebuah kereta yang tergambarkan penuh misterius. Secara garis lurus, kemisteriusan kereta dalam sampul bisa juga digambarkan sebagai suasana hati si tokoh utama yang cukup suram usai perceraiannya.

Suram karena si tokoh utama terjerumus dalam candu alkohol. Namun menurut Truly, konflik, intrik, dan akhir cerita sangat menantang dan mengejutkan. Membuat siapa pun yang membacanya tidak akan berpikir untuk meninggalkan halaman demi halamannya begitu saja. “Karena banyak kejutan, maka saya tidak berpikir meninggalkan halaman demi halamannya dengan begitu saja,” katanya.

Sementara, perwakilan Noura Books, Shinta, menyatakan bahwa hadirnya buku terjemahan The Girl on the Train di Indonesia oleh Noura Books diawali saat Frankfurt Book Fair 2014. Saat itu buku tersebut direkomendasikan oleh para agen buku internasional.

Ternyata, pada Januari 2015 di Amerika dan Inggris, buku The Girl on the Train mendapat respons positif. Maka tak heran, novel tersebut tengah dalam penggarapan filmnya. “Novel The Girl on The Train banyak direkomendasikan dari agen buku internasional kepada Noura. Kami (Noura Books) yakin buku ini memiliki nilai lebih untuk dipublikasikan,” katanya.

Para peserta workshop penulisan dan bedah buku tengah berfoto bersama.

Menciptakan Emosi
Selain diskusi novel The Girl on The Train, acara tersebut juga diisi dengan workshop menulis. Dalam pelatihan menulis, salah satu yang dijabarkan adalah bagaimana kiat-kiat menulis yang baik, manfaat dari menulis, serta bagaimana mengolah pengalaman pribadi dan orang lain untuk memperkaya tulisan.

Menurut Shinta, penulis yang baik adalah penulis yang tidak menuliskan emosi seorang tokoh, tapi menggambarkan dan menciptakan emosi itu sendiri. Karena jika emosi dituliskan dengan kata, tidak akan membangun karakter si tokoh dan pembaca akan kehilangan suasana dan tidak terbawa emosi pada cerita.

Dan yang tak kalah pentingnya, menurut Shinta, penulis harus rajin membaca ulang tulisannya pada saat akan memulai kembali tulisannya. Hal itu perlu agar terjadi kesinambungan dalam alur cerita dan mendapatkan koreksi dari tulisan-tulisan yang telah ditulis.

Tak hanya itu, melihat kembali tulisan yang telah ditulis juga akan menciptakan kultur autocorrect pada tulisan sendiri. Acara kemudian ditutup dengan pembacaan cerita pendek (cerpen) dari para peserta workshop tentang perjalanan di sebuah kereta. Ketiga peserta yang berhasil memenangkan workshop antara lain Rahayu, Ika Putri Suwarti, dan Dika.

Dari pembacaan cerpen pemenang workshop, Shinta menyatakan bahwa ternyata banyak cerita-cerita yang dapat ditulis dari hal-hal yang paling sering kita temui. Seperti pengalaman menaiki kereta di sebuah kota, ternyata banyak cerita dari dalam kereta. Orang-orang yang ditemui di dalamnya, sekaligus pelajaran apa yang dapat dipetik dari sebuah tulisan.

Dari pelatihan menulis, sekecil apa pun, akan menjadikan tulisan itu berarti. Yang tak kalah penting, menurut Shinta, kunci pertama untuk menjadi seorang penulis adalah banyak-banyak membaca buku. Karena percaya tidak percaya, di dalam buku selalu terdapat kejutan yang sangat berharga. Kejutan itu sepertinya juga termuat dalam novel The Girl on the Train. *imas damayanti

Sumber: http://www.koran-sindo.com/news.php?r=0&n=13&date=2016-01-31 (dengan perubahan)

Rabu, 23 Maret 2016

Bedah Buku Jika Aku Milikmu

Suasana diskusi di Auditorium Koran SINDO.
 
JAKARTA – Selasa 17 November 2015, acara bedah buku Jika Aku Milikmu diadakan oleh GagasMedia bekerja sama dengan Perpustakaan Koran SINDO di Auditorium Koran SINDO, Jakarta Pusat. Acara yang dihadiri oleh dua penulis, Bernard Batubara dan Nicky Rosadi, juga editor novel Jika Aku Milikmu, Widyawati Oktavia, ini mengundang banyak perhatian masyarakat terutama bagi mereka yang gemar membaca dan menulis novel. Dalam diskusi bedah buku kali ini, lelaki yang akrab disapa Bara ini menceritakan sedikit gambaran yang berada dalam novel Jika Aku Milikmu.

Novel yang bertemakan cinta ini mengisahkan tentang Sarif, seorang pemuda yang berasal dari Pontianak, bersama Nur, teman perempuan Sarif yang lahir dan tinggal di kota yang sama. Mereka saling mencintai tetapi tidak mengutarakan perasaan mereka masing-masing. Hingga tiba saatnya Sarif harus pergi ke Jakarta selama empat tahun demi melanjutkan pendidikan di bangku kuliah, sedangkan Nur tetap tinggal di tempat kelahirannya, Pontianak, untuk menjaga ibunya.

Sarif mempunyai ambisi untuk menjadi seorang penulis dan mempunyai intelektual yang tinggi. Sedangkan Nur, perempuan yang ragu untuk menggapai mimpinya dikarenakan Nur harus merawat ibunya yang sakit, padahal dia memiliki bakat bermain biola seperti bakat yang dimiliki ayahnya sebagai pemain biola profesional di kampungnya. Di dalam novel ini, Bara menambahkan peran Mei sebagai wanita lain yang hadir di hidup Sarif. Mei digambarkan sebagai sosok perempuan etnis China berkulit putih, berparas cantik, dan memiliki tubuh semampai, yang  membuat banyak lelaki menyukainya. Mei merasa tertarik dengan Sarif karena mereka mempunyai hobi yang sama. Selain itu, ia juga dapat berdiskusi tentang banyak hal dengan Sarif.
Foto bersama peserta diskusi.
Novel keempat karya Bara ini merupakan seri L.O.V.E CYCLE GagasMedia. L.O.V.E Cycle merupakan seri novel GagasMedia yang menggambarkan tentang putaran kisah cinta yang berawal dari tahap Cinta Pertama–Masa Berharap/PDKT–Masa Berpacaran–Masa Putus–Masa Move On dan Masa Berkomitmen. Seri L.O.V.E Cycle ini melibatkan beberapa penulis GagasMedia.  Novel Jika Aku Milikmu, merupakan seri L.O.V.E Cycle yang menggambarkan situasi di masa berpacaran.

Bara mengatakan, novel ini “tidak sengaja” tercipta karena ia gagal memenuhi deadline yang ditentukan oleh GagasMedia untuk proyek Indonesiana. “Pada awalnya Mbak Iwied, sapaan akrab Widyawati Oktavia, menawarkan saya untuk ikut serta dalam proyek Indonesiana, di mana saya akan menciptakan kisah yang berlatarkan Kota Pontianak yang merupakan kota kelahiran saya. Sayangnya, saya gagal memenuhi deadline yang telah ditentukan. Sehingga saya batal untuk ikut serta dalam proyek tersebut. Mbak Iwied kemudian mengusulkan agar cerita yang saya buat dijadikan novel saja, akhirnya terbitlah novel ini,” ungkap Bara saat diskusi berlangsung.

Bara berpendapat bahwa kisah dua perempuan yang saling memperebutkan cintanya itu lebih seru dan bisa memperpanjang jalan cerita menjadi beberapa adegan. “Berbeda jika novel dengan cerita dua orang pria yang memperebutkan satu perempuan, itu akan berakhir singkat karena kalau tidak bertengkar, mereka mundur salah satu,” ujarnya.

Mbak Iwied, selaku editor novel Jika Aku Milikmu mengatakan, Bara merampungkan novel ini dalam kurun waktu enam bulan. Penulis buku Penjual Kenangan ini menambahkan bahwa GagasMedia sangat terbuka untuk menerima penulis-penulis baru.

“Siapa saja boleh mendaftarkan karyanya, baik berupa kumpulan cerpen maupun novel. Silakan buka www.gagasmedia.net untuk informasi lebih lanjut. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, di antaranya calon penulis harus menulis minimal 75 halaman. Setelah itu editor akan mengulas selama kurang lebih 3–5 bulan. Kemudian tim editor akan menghubungi penulis untuk tahap selanjutnya,” ungkap Mbak Iwied.

Nah, bagi kalian yang senang menulis cerita-cerita fiksi dan cerpen, bisa mengirimkan karyanya melalui website GagasMedia. Mbak Iwied menyarankan, alangkah baiknya jika calon penulis membaca terlebih dahulu karya-karya penulis lain yang bukunya telah diterbitkan oleh GagasMedia. Agar calon penulis mendapatkan referensi mengenai karya yang sesuai dengan standar GagasMedia.

Novel Jika Aku Milikmu telah dijual di toko-toko buku seluruh Indonesia dan dijual dengan harga Rp59.000. Silakan klik URL ini http://gagasmedia.net/atikel-buku/34-buku-baru/1447-jika-aku-milikmu untuk informasi lebih lanjut.


Sumber: http://moeslema.com/en/bedah-buku-jika-aku-milikmu-karya-bernard-batubara-2/ (dengan perubahan)

Kamis, 03 Maret 2016

Bidadari Pemeluk Subuh

Nicky Rosadi 

Spesifikasi Buku
ID: 715031364 
ISBN: 9786020268682
Editor: Afrianti Pardede
Ukuran: 12,5x19,5 cm
Harga: Rp48.800
Terbit: 29 Juli 2015
Tebal: 240 Hlm






Dira, memutuskan untuk setia menunggu Aqila, yang dia beri janji 12 tahun lalu untuk bertemu kembali di tempat yang mereka telah tentukan. Dira seharusnya bahagia karena pertemuan yang akhirnya terjadi setelah menunggu sekian lama. Ternyata, Aqila bukan gadis yang sama lagi seperti 12 tahun yang lalu.

Keinginan Dira untuk bersama Aqila tidak disambut dengan baik. Dira berusaha membuka hatinya dan mencari cinta yang tepat untuknya. Kehadiran Mila, yang sangat mirip dengan Aqila, membuat Dira juga semakin susah move on dari sosok Aqila. Keinginan untuk bisa bersama dengan Mila pun semakin kuat. Namun berkali-kali Dira mencoba, berkali-kali juga Mila mematahkan keinginan Dira. Dira dan Mila tidak bisa bersatu karena satu alasan yang mendasar, meskipun mereka tahu, mereka saling memiliki rasa.

Pencarian Dira pun berakhir hingga dia menemukan wanita pilihannya. Wanita yang tidak pernah diduganya. Wanita yang tidak pernah terlintas di masa lalunya. Tapi dia yakin, akan menjadi masa depannya.


Pemesanan & informasi, hubungi :
GRAMEDIA DIRECT
Telp. (62-21) 536 50 110 / 111 ext. 3901 / 3902
Email: sales.dm@gramediapublishers.com, langganan@gramediapublishers.com
Online Service / Layanan Online: www.gramedia.com ; www.grazera.com
Suggestion & Complain / Saran & Keluhan: keluhan@gramediapublishers.com 

Secangkir Teh

Nicky Rosadi, Dian Agustina, Rohmadi 

Spesifikasi Buku
ID: 188141232  
ISBN: 9786020241449

Editor: Afrianti Pardede
Ukuran: 12.5x19.5 cm
Harga: Rp46.800

Terbit: 28 Mei 2014
Tebal: 248 Hlm   








Meminum Secangkir Teh adalah awal untuk memulai sebuah pembicaraan, yang menyisakan banyak cerita untuk dikenang. Secangkir teh menjadi cara Regi, Soleh dan Intan dalam mengenang orang-orang yang disayangi. Tapi ternyata kisah mereka tidak semanis secangkir teh yang biasa mereka minum. Berhasil memiliki orang yang disayang atau memutuskan untuk pergi, semuanya disajikan dalam kenangan bersama secangkir teh.

Secangkir Teh adalah novelet hasil kolaborasi tiga orang penulis yang terdiri dari guru dan murid. Dua orang guru dan satu orang murid yang menulis dengan gaya yang berbeda dan saling menyesuaikan. Ada kisah yang sangat manis dan penuh kenangan dalam Secangkir Teh.



Pemesanan & informasi, hubungi:
GRAMEDIA DIRECT
Telp. (62-21) 536 50 110 / 111 ext. 3901 / 3902
Email: sales.dm@gramediapublishers.com, langganan@gramediapublishers.com
Online Service / Layanan Online: www.grazera.com
Suggestion & Complain / Saran & Keluhan: keluhan@gramediapublishers.com

Kamis, 28 Januari 2016

Lumpuh.

Aku tak berharap luka menganga terbuka di depan mata.

Seumpama pasir-pasir tertiup angin,
dengan bisik daun kelapa yang muncul tiba-tiba,
aku tidak pernah lupa telah lumpuh dalam cinta.

Berangkatlah seorang pengembara ke arah selatan,
mencari pengharapan
untuk dibawa pulang bersama isi nampan.
Bukan tangan hampa yang diimpikan dua atau tiga mata dan kepala.
Mereka tetap ingin cinta bisa bicara apa adanya.

Aku tak berharap luka menganga terbuka di depan mata.

Menyambut senja-senja yang hilang disiram tawa.
Tawa yang meluka.
Tawa yang menyedih.
Tawa yang, tak bisa disebut canda.

Pulanglah segera.
Bercerita saja apa adanya.
Bukan karena bisa sembunyikan luka.
Tapi biarkan luka yang bicara.
Biar dia menganga.
Biar dia terbuka.
Biar dia jadi nyeri di depan mata.

Aku tak berharap luka menganga terbuka di depan mata,
maka terpejamlah,
dan bawa duka-duka.



Gondangdia,

28/01/2016
19:48

Jumat, 15 Januari 2016

Bagian I: Munculnya Sebuah Tanda



Kehidupan adalah sebuah cerita. Seperti layaknya sebuah cerita, dalam kehidupan pun selalu ada permulaan, konflik dan penyelesaian. Hal itu terus terjadi berulang-ulang kali, hingga waktu memenggal absurditas itu. Bahkan kadang, kehidupan seakan terasa tak pernah ada penyelesaian, hingga akhirnya seseorang harus menjemput waktunya sendiri dan dengan bangga ia berkata, “itulah penyelesaian,”

Bicara kehidupan, tak akan lepas dari takdir. Takdir seperti layaknya kata-kata yang membawa pembaca melewati alur cerita. Pembaca tak akan bisa berbuat apa-apa. Pembaca hanya akan menjadi kereta yang berjalan di atas rel, tak bisa berbelok atau mundur ke stasiun sebelumnya. Pembaca akan terus melaju, menyusuri kata demi kata yang bertindak sebagai rel yang menuntun matanya hingga akhirnya sampai pada stasiun tujuannya (akhir cerita). Begitulah takdir, kita tidak akan bisa mundur hingga kehidupan benar-benar berakhir.

Namun, akan selalu ada kata-kata sulit dalam cerita yang membuat kita berhenti sejenak. Membuat kita berpikir, menggaruk kepala, membuka kamus, atau bahkan menutup buku itu begitu saja. Seperti apa  yang akan kita lakukan pada takdir sulit yang kita hadapi. Kita akan berpikir, menggaruk kepala, membuka kamus, dan bahkan menutup napas hidup kita begitu saja. Tunggu, membuka kamus? Kamus seperti apa? Mungkin, bisa kubilang kamus Tuhan yang terletak di antara hati, nafsu, dan akal.

***

“Dewa! Oper ke sini!” kata Baynuri sambil melambaikan tangannya.

Tanpa ragu, Dewa mengoper bolanya kepada Baynuri. Baynuri berhasil menyambut operan itu dengan baik. Di depan gawang Fadhil telah bersiap menjaga gawangnya. Dewa pun ikut berlari dan mencari posisi yang paling tepat untuk bisa membobol gawang Fadhil. Fadhil pun mulai menerka apa yang akan dilakukan Baynuri, membobol gawangnya langsung, atau mengopernya kembali pada Dewa. Mata Fadhil kini hanya terpaku pada bola yang terus bergulir itu. Tapi tak disangka, Baynuri menendang bolanya sekuat yang dia bisa. Fadhil melompat ke arah laju bola itu, dan hap!

 “Gol!” Baynuri berteriak sambil mengepalkan tangannya dengan ekspresi yang sangat bahagia.

Di sisi lain, Dewa dengan raut wajah kecewanya hanya bisa menendang-nendang tanah dengan ujung sepatunya.

“Dia selalu seperti itu. Coba saja dia memberikan bola itu lagi kepadaku, pasti akan terjadi gol yang lebih bagus dari ini. Kadang aku ingin sekali dia tidak ada dalam tim ini,” Dewa membatin dalam dirinya sendiri.

Belum sempat kekesalan itu hilang, tiba-tiba saja Dewa merasa pusing sekali. Kepalanya serasa berdenyut dan akan meledak. Dia sampai harus menahan ledakan di kepalanya itu dengan kedua tangannya. Tak ada satu pun temannya yang mempedulikan dirinya. Tiba-tiba semua gelap, tapi tak lama karena kemudian dia kembali berdiri di lapangan tempatnya bermain bola. Di pinggir lapangan dia melihat temannya ramai berkumpul. Dewa menghampiri kerumunan itu. Setelah mendekat, dia melihat Baynuri berbaring di sebelah batu kali yang biasa mereka duduki seusai bermain bola. Baru saja dia ingin mendekat dan menyentuh punggung Baynuri, tiba-tiba dia dikagetkan oleh sesuatu.

“Dewa, ayo balik ke posisi,” kata Baynuri sambil menepuk pundak Dewa. Saat itu juga, kepalanya tak lagi terasa sakit sedikit pun.

Mereka kembali bermain. Kini Baynuri membawa bola, dia mampu melewati Iwan, tapi tak lebih dari tiga langkah kemudian Anwar telah siap merebut bola yang dibawa Baynuri. Anwar berhasil mendapatkan bola itu dengan mendorong tubuh Baynuri menggunakan badannya. Baynuri terpental dan bola yang bebas itu langsung diambil oleh Anwar. Tidak banyak ambil resiko lagi, Anwar langsung menendang bola itu ke arah gawang. Dan tembakannya sama sekali tidak meleset. Anwar berhasil menambah satu angka untuk timnya.

Di sela-sela kegembiraan Anwar. Anwar mendekati Baynuri yang tadi terjatuh karena dorongan badannya. Baynuri masih terbaring di pinggir lapangan. Terdengar rintihan kecil keluar dari mulut Baynuri. Teman-temannya mulai datang mendekatinya karena penasaran. Berkali-kali dia dipanggil oleh teman-temannya, namun dia tak menjawab atau pun sekedar menatap mereka.

“Udah jangan cengeng, kedorong gitu aja loyo banget sih! Ayo main lagi,” kata Anwar sambil membalik tubuh Baynuri.

Namun betapa kagetnya Anwar, ia melihat kepala Baynuri telah merah tertutupi darah yang mengalir dari dahinya. Lantas ia berteriak dan menarik perhatian semua temannya. Merak semua panik dan berusaha menolong Baynuri.

“Akan aku beri tahu orang tua Baynuri di rumah,” kata Iwan yang langsung berlari.

“Dasar pengecut,” kata Jaka sambil memperhatikan Iwan yang berlari semakin jauh. Kini padangan Jaka beralih kepada Dewa. “Kau tahu? Sebenarnya, Iwan itu takut darah,” kata Jaka kemudian.

Meski jengkel dan sempat berharap Iwan berlumuran darah, Dewa bersama teman-temannya berusaha mengangkat tubuh Baynuri. Dia kemudian mengikatkan bajunya yang telah dibuka ke kepala Baynuri agar darah tak lagi mengalir dari dahi Baynuri.

Namun tiba-tiba Dewa tak mampu menopang tubuh Baynuri, kepalanya kembali terasa sakit. Hal yang sama seperti sebelumnya terulang. Lagi-lagi kepalanya terasa ingin meledak. Kemudian semuanya menjadi gelap. Begitu dia membuka matanya, tak ada lagi Baynuri. Yang dia lihat kini, Iwan tertabrak motor hingga terpental. Tapi begitu dia ingin mendekat dan menolong Iwan, semuanya kembali gelap. Kembali dia membuka matanya, kini dia melihat Anwar tengah memperhatikannya.

“Kau tidak apa-apa, Dewa? Kalau kau merasa keberatan, biar yang lain saja yang memapah Baynuri,” kata Anwar yang memapah sisi kanan Baynuri.

Tapi Dewa hanya menggeleng dan kemudian berusaha berdiri dan berjalan. Dewa dan Anwar memapah Baynuri, sedangkan yang lainnya mengikuti dari belakang. Memang agak jauh antara jarak lapangan dengan rumah Baynuri, belum lagi mereka juga harus melewati kali dan jalan raya untuk sampai ke rumah Baynuri.

“Sepertinya habis terjadi kecelakaan,” kata Fadhil kepada Jaka yang berjalan di belakang Dewa dan Anwar. “Lihat itu,” ucap Fadhil melanjutkan dan menunjuk ke arah kerumunan orang yang ada di pinggir jalan raya.

“Coba kita lihat,” kata Jaka kemudian.

“Hey, kita kan harus mengantar Baynuri!” teriak Dewa kepada Jaka dan Fadhil yang berlari mendekati kerumunan.

“Kalian duluan saja. Nanti kami menyusul!” balas Fadhil berteriak.

Dewa menggelengkan kepalanya sambil melihat Fadhil dan Jaka yang berlari mendekati kerumunan orang. Setelah itu Dewa memberi isyarat kepada Anwar untuk melanjutkan perjalanannya ke rumah Baynuri.

Sampai di rumah Baynuri, ibu Baynuri yang kebetulan sedang berada di luar rumah langsung berlari menghampiri Dewa dan Anwar.

“Ada apa dengan Baynuri?” tanyanya heran.

Namun tak ada satu pun dari mereka yang menjawab, mereka hanya menunduk dan membiarkan ibu Baynuri memeriksa anaknya sendiri. Ibu Baynuri langsung terpaku pada baju yang diikatkan di dahi anaknya.

“Apa yang terjadi pada anakku? Ayo, bawa dia ke dalam,” kata ibu Baynuri bergegas.

Kini ibu Baynuri terlihat lebih khawatir dari sebelumnya. Dia menuntun Dewa dan Anwar untuk segera membaringkan Baynuri di kursi yang berada pada ruang tamunya. Dia langsung mengelus dahi anaknya. Terlihat air mata mulai metes di pipinya.

“Apa Iwan belum ke sini dan memberitahu ibu?” tanya Dewa.

Ibu Baynuri hanya menggeleng.

Dewa dan Anwar saling pandang. Kemudian Dewa memberi isyarat agar Anwar memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Baynuri.

“Begini, Bu. Saat kami sedang bermain bola, Baynuri terjatuh dan kepalanya langsung menghantam batu besar yang ada di pinggir lapangan,” ucap Anwar sedikit gemetar.

Ibu Baynuri malah menangis sejadi-jadinya. Terlebih ketika ibu Baynuri memanggil-manggil Baynuri, Baynuri hanya mampu membuka mulutnya yang pucat tanpa mengeluarkan suara apa pun. Beberapa air mata menetes menghujani pipi Baynuri.

Terdengar sayup-sayup Baynuri memanggil ibunya. Ibunya semakin membungkuk hingga hidung ibunya menempel pada pipi Baynuri. Tak ada kata yang keluar. Hanya isakan yang terdengar. Air mata yang membasahi pipi Baynuri tak sanggup membuat mata Baynuri terbuka. Beberapa saat kemudian, tangan Baynuri tak mampu lagi menggenggam jari ibunya. Tubuhnya melemas. Napas tak lagi keluar dari hidungnya. Ibu Baynuri menjerit dan terus membangunkan Baynuri. Tapi Baynuri, telah tertidur untuk selamanya.

Dewa dan Anwar pulang setelah para tetangga datang karena mendengar jeritan ibu Baynuri. Mereka tak tahu harus berbuat apa, akhirnya mereka memilih untuk pulang.

Ketika mereka berjalan melewati rumah Iwan, mereka melihat orang ramai berkumpul. Di sana, mereka juga melihat Fadhil dan Jaka. Tanpa pikir panjang, Dewa dan Anwar langsung menghampiri Fadhil dan Jaka.

“Ada apa?” tanya Anwar sambil berusaha melihat ke dalam rumah Iwan.

“Iwan tertabrak. Tubuhnya berlumuran darah,” jawab Fadhil.

Anwar menatap Fadhil tak percaya. Begitu juga dengan Dewa.

“Kau ingat kecelakaan di jalan raya tadi? Ternyata Iwan yang tertabrak,” kata Jaka menerangkan.

Sebelum azan maghrib berkumandang, dua berita duka terdengar dari speaker masjid di kampung mereka.

***

Di rumah, Dewa hanya tinggal dengan ibu dan kakeknya. Ayahnya meninggal tepat ketika dia dilahirkan, itu kata ibunya. Namun, sampai sekarang, Dewa tak pernah tahu apa penyebab kematian ayahnya. Setiap dia bertanya tentang kematian ayahnya, ibunya tak pernah mau menjawab pertanyaannya.

Setelah salat isya berjamaah, Dewa langsung meninggalkan ibu dan kakeknya. Dia bangkit dan langsung menuju ke kamarnya di sebelah ruangan itu.

“Nak.”

Panggilan ibunya membuatnya berhenti melangkah. Ia menoleh kepada ibunya.

“Kemari sebentar,” ucap ibunya.

Dewa menghampiri ibunya dan duduk tepat di sampingnya. Sementara itu, di sebelah mereka, kakek mulai membaca Alquran.

“Apa yang kau pikirkan, Nak?” tanya ibunya.

Dewa hanya menundukkan kepalanya.

“Nak,” ibunya berusaha memandang wajahnya, “bicaralah,” kata ibunya berusaha meyakinkan.

“Iwan dan Baynuri meninggal, Bu,” kata Dewa sambil tetap menunduk.

Tangan hangat ibunya tiba-tiba membelai kepala Dewa. Dewa mengangkat kepalanya dan memandang wajah ibunya. Ibunya tersenyum kepadanya.

“Sudahlah, Nak, jangan terlalu bersedih. Itu tidak baik. Kau harus ingat, segala sesuatu berasal dari-Nya, dan akan kembali kepada-Nya pula. Jika kau tidak merelakan kepergian dua orang temanmu itu, maka mereka tidak akan tenang di alam sana. Sudahlah, ikhlaskan meraka,” kata ibunya sambil mengelus pipi Dewa. Telapak lembut itu seakan menjadi bantal tipis untuk Dewa bersandar.

“Ada yang aneh dengan kematian mereka, Bu,” kata Dewa pelan.

Ibunya mengernyitkan dahi.

“Aku melihat kematian mereka sebelum mereka benar-benar mati, Bu,” lanjut Dewa.

“Maksudmu?” tanya ibunya tak mengerti.

“Aku seperti bermimpi melihat kematian mereka. Tapi aku yakin itu bukan mimpi, karena aku tidak tidur. Sebelum melihat itu, kepalaku terasa begitu sakit,” kata Dewa kemudian.

“Ketika aku sedang bermain bola, aku cemburu pada Baynuri yang selalu membobol gawang tanpa memberikan kesempatannya kepadaku. Saat itu aku ingin sekali Baynuri tidak ada dalam timku, Bu. Aku ingin menjadi bintang lapangan, bukan Baynuri. Setelah berpikir seperti itu, tiba-tiba saja kepalaku menjadi sakit. Aku tak bisa menahan rasa sakitnya, kepalaku rasanya ingin pecah. Setelah itu, aku melihat Baynuri telah menghantam batu dan kepalanya berlumuran darah. Tapi ketika aku ingin menyentuh Baynuri, pundakku malah ditepuk oleh Baynuri. Dan aku sadar itu hanya, seperti mimpi saja. Tapi tidak lama setelah itu, keadaan yang pernah aku lihat sebelumnya itu terjadi. Aku tak mengerti apa maksudnya ini, Bu,” ungkap Dewa sambil menjambak rambutnya.

“Kemudian,” Dewa melanjutkan, “ketika aku dan teman-temanku sedang sibuk mengurusi Baynuri, Iwan malah lari pulang karena takut darah. Merasa kesal, tanpa sadar aku sempat berharap tubuh Iwan berlumuran darah. Lagi-lagi, setelah itu aku merasakan sakit di kepalaku dan aku melihat Iwan tertabrak motor hingga mengakibatkan tubuhnya berlumuran darah. Kemudian aku kembali disadarkan oleh temanku, tapi kali ini Anwar yang menyadarkanku,” kata Dewa.

“Kemudian, apa yang kau lihat itu menjadi kenyataan lagi?” tanya ibu.

Dewa mengangguk.

Tiba-tiba kakek berhenti mengaji. Tak seperti biasanya kakek berhenti mengaji secepat ini. Dewa dan ibu memperhatikan kakek. Mereka takut kalau obrolan merekalah yang menganggu kakek dan membuat kakek berhenti mengaji.

Kakek menatap Dewa. Dewa menunduk, tak berani menatap balik ke arah kakek.

“Apakah yang kau lihat sebelumnya, benar-benar sama dengan yang terjadi setelahnya, Nak?” tanya kakek dengan suaranya yang berat.

Dewa terkejut, begitu juga dengan ibu. Dewa hanya mengangguk tanpa suara. Kakek kemudian terdiam. Tatapannya kosong menatap lurus ke depan. Entah apa yang dipikirkannya.

Tiba-tiba kakek menutup dan meletakkan Alqurannya pada sebuah tempat mirip lemari yang memang disediakan untuk menyimpan Alquran dan kitab-kitab hadis yang biasa dibaca kakek.

“Wihaga. Itu wihaga,” kata kakek kemudian sambil berjalan mendekati ibu dan Dewa.

Kemudian kakek duduk di sebelah Dewa. Mereka duduk melingkar, persis seperti orang-orang yang sedang melakukan diskusi kecil.

 “Apa itu, Kek?” tanya Dewa heran.

“Sebuah kata dalam bahasa Kawi yang artinya tanda keajaiban. Kau menyimpan kekuatan besar, Nak,” kata Kakek.

Dewa malah tertawa. Tapi kemudian langsung terdiam karena kakeknya terlihat serius.

“Baiklah, aku tidak memakasamu untuk langsung mempercayaiku. Tapi kau harus tahu bahwa kau memiliki kekuatan yang tidak dimilki oleh orang lain,” kata kakek kemudian.

Dewa tak berkata apa pun. Apa yang dikatakan kakeknya benar-benar terdengar seperti dongeng belaka. Tapi dia tahu, kakek bukan orang yang suka bercanda.

“Sudah, tak usah kau pikirkan lagi. Sekarang pergilah tidur. Kau tenangkan pikiranmu. Masalah ini terlalu sulit untuk kau mengerti,” lanjut kakek.

Dewa langsung melangkah menuju kamarnya. Dia meninggalkan ibu dan kakeknya di ruang itu.

Di kamar, Dewa tak langsung memejamkan matanya. Dia masih memikirkan apa yang dikatakan kakeknya. Bahkan, dia sempat mendengar suara ibunya memaksa kakek menjelaskan apa yang sedang dialaminya. Namun dia tidak mendengar jelas jawaban kakek, sampai akhirnya dia terlelap dalam tidurnya.

***

Minggu, 30 November 2014

Bidadari Pertama

Seketika dia ada,
seperti terpaan angin
yang tiba-tiba ada di pelupuk mata.

Aku cinta dia, Tuhan.

Kuselipkan namanya dalam rangkai doa
yang kudengungkan dalam sepi
ketika manusia bermimpi.

Apakah cinta hanya ada di dunia?
Apakah cinta selesai ketika jasad tak bernyawa?

Tuhan, aku cinta dia.

Kuberikan cinta tanpa nyawanya,
agar cinta tak bisa mati meninggalkan tempatnya.
Kuberikan cinta tanpa terlihat jasadnya,
agar cinta dapat merasuk dalam diam dan terasa ketika kau terpejam.

Aku cinta dia,
Tuhan,
jadikan dia bidadariku yang pertama Kau pertemukan di surga.

Karang Mulya
30/11/2014
00:20

Rabu, 02 Oktober 2013

Aku Ingin Tenang

Sayang,
aku tak akan hilang.

Seumpama debu-debu itu terbang tanpa tujuan,
aku,
tetap bertahan.

Dan kau tak lagi tinggal dalam lamunan  kesepian,
aku,
menemanimu dalam kehidupan.

Dari dekat aku mencoba melihat,
setitik ketulusan
yang telah lama hilang
dan kurindukan.

Aku,
pertaruhkan kesetiaan.

Untuk dirimu
yang tak mampu membaca isi hatiku,
jangan ragu.

Dan aku akan tetap memelukmu hingga habis masa waktuku.

Sayang,
aku ingin tenang.
Dan biarkan aku terlelap dalam pelukan dan kasih sayang.



Karang Mulya
08/09/2012
22:36

Rabu, 11 September 2013

Asa

Terhanyut aku dalam asa dan keraguan,
yang terus membawaku dalam napas kebimbangan.

Akankah aku terus bertahan dengan segala kepedihan?

Jangan ambil aku dari segala kebahagiaan.
Biarkan aku hidup dalam kesedihan.
Izinkan aku tetap terus merasakan.

Percayalah,
kekecewaan pasti datang,
namun,
air mata yang membeku,
pun,
tak bisa membuatnya hilang.



Karang Mulya,
11/09/2013
00:12

Minggu, 01 September 2013

Apa(-apa)

Seperti busur dan panah,
yang tercipta hanya untuk berpisah.

Seperti dua sisi koin yang kau punya,
ada, tapi tak pernah bertatap muka.

Seumpama nasib membawa kita bersama,
maka kita bukanlah apa-apa.
Warna tak kan menjadikan kita berseri bagai pelangi,
hanya meredam, dan memudar tak jelas apa yang bersinar.

Tidak, tidak.
Aku bukan siapa-siapa,
hanya orang biasa saja.
Temukan dia yang istimewa.
Yang membuatmu bahagia,
dalam dunia selama kau bernyawa.

Sedang aku menunduk malu,
di hadapan Tuhanku
dalam doa yang kutujukan untukmu.
Tak kan kuberhenti meminta dalam waktu-waktu tertentu.
Tak peduli,
meski harus jadi abu.

"Aku ikhlaskan dia pada tangan yang memeluk dan menjaganya di dunia,
karena cintaku tak ada apa-apanya.
Tapi,
Tuhan, jodohkan aku dalam surga."

Meski gelang tak lagi pada tangannya,
meski cincin telah berubah namanya,
tapi jangan biarkan
kacamata terlepas dari kepala.



Karang Mulya,
01/09/2013

00:33

Minggu, 25 Agustus 2013

Tak Ada Akhirnya

Hati ini sampah.
Jiwa ini ampas.
Hanya berharap dari mimpi yang tersisa,
yang tak pernah ditemukan
akhirnya.

Aku hanyalah maling.
Maling, dalam fatamorgana.
Mengambil semua sisa mimpi di dunia,
dan kembali tanpa penjelasan apa-apa.

Aku coba saja berjalan apa adanya,
tapi semua sia-sia.

Aku lari saja di antara kaum tanpa realita,
tapi tetap saja tak ada
akhirnya.



Karang Mulya,
24/12/2010
00:24

Rabu, 31 Juli 2013

Percuma

Bawalah aku yang jauh dari pijakan.
Tak perlu hilang,
tapi cukup menjauh.

Aku tak meminta sejauh peluh meninggalkan pori yang tak kunjung kembali lagi.
Aku tak meminta sepudar keruh yang menjadikan putih menjadi tiada.

Ada surga dalam mimpiku,
ada rasa yang tak perlu kau tanya.
Adakah hidup menjadi tiada ketika mata kehilangan tujuannya?
Percuma
kurasa tatap ke muka,
jika kau sirna tiada.
Percuma
belakang kutatap sempurna,
jika kau terbang diam-diam tanpa bicara.

KARANG MULYA
31/07/2013
23:48

Minggu, 30 Juni 2013

Larikan Aku dari Masa Lalu

Hidupku,
dari angka dan batu-batu.

Adakah ujung dari satu titik itu?
Seperti luka,
yang berujung pada cinta atau kematian.
Seperti cinta,
yang berujung pada luka atau tangisan.
Kita
hidup di antara mati dan sepasang tangisan.

Lalu di mana letak kebahagiaan?
Yang perlahan melemah
dan berakhir pudar.

Tetua berkata pada yang muda,
"Tawa, pernah ada di hidup kita. Luka, selalu ada di depan mata"

Di mana kita bicara?
Suara apa yang seharusnya menggelitik isi telinga?

Aku percaya,
tapi
larikan aku dari masa lalu
seperti mimpi-mimpi
seperti sepi-sepi.
Biarkan kunang-kunang membimbing langkah kaki.

TIDUNG
30/06/2013
09:37

Kubuang yang Hilang

Kubuang yang hilang,
ke tempat jauh
yang tak terbilang.

Mungkin pikiranku berdesakan dengan kenangan.
Mungkin hatiku,
terombang-ambing di atas kandas harapan.

Tapi sudah kurelakan.
Tapi sudah kuikhlaskan.

Kubuang yang hilang,
Ke tempat jauh
yang memenjarakan bayang-bayang.

TIDUNG
30/06/2013
09:23

Rahasia

Ada mata dalam jelaga.
Ada sulam dalam permata.
Sungguh,
kau tak bisa melihat apa yang seharusnya kau lihat.

Maka seruni telah hilang.
Mengambil satu bahasa lain yang juga telah hilang.
Ke mana mereka pergi?
Sampai lupa kembali.

Aku di sini,
Sayang.
Membuang kenangan.

30/06/2013
07:59
TIDUNG

Jumat, 28 Juni 2013

Kemudian,

Senja, teracun gulita.
Hilang dimakan malam,
sirna terlipat kejadian.


Lalu turunlah hujan
dengan rintik bernada geram.
Tapi tak lama dia ada.
Kemudian hilang,
tergerus zaman.

Mereka tuli dalam ingatan.
Dia tertawa dalam keterpurukan.

GONDANGDIA
26/06/2013
18:44

Kamis, 27 Juni 2013

Perempuan di Ambang Malam

Hay, kamu
Perempuan di ambang malam
yang terdiam meniti kerinduan
yang terjebak dalam luka dan kesakitan.

Aku memanggilmu seperti peri kecil yang mendengungkan kesetiaan
mencari batang, dan pijakan untuk sandaran.

Hay, kamu
Perempuan di ambang malam
Bolehkah kita bertemu?

Karang Mulya
26/06/2013
00:18

Kamis, 09 Agustus 2012

Bertahan

Jera? Tentu saja tidak. Ada saatnya memang kita merasa terpuruk, Kawan. Tidak, tidak. Meskipun berkali-kali kau alami keterpurukan, bukan berarti kau harus berhenti dan menyerah. Kita adalah manusia, dan diciptakan untuk bertahan.
Bertahan? Ya, memang itulah yang sejak dulu dilakukan oleh nenek moyang kita. Hey, kau masih mau berkilah? Coba ingatlah, bagaimana mungkin kita bisa ada kalau nenek moyang kita tidak bertahan dari ancaman dinosaurus dan kelaparan? Gila? Haha. Kau yang gila, Kawan. Kau ingin melupakan sejarah? Tidak. Tidak mungkin sejarah bisa dilupakan. Dipalsukan, mungkin.
Ada saatnya kita harus mempercayai sebuah sejarah. Ya, tentu saja jika sejarah itu terbukti kebenarannya. Iya, itu fakta, Kawan. Dan memang itulah prinsip dasar fakta, ‘terbukti kebenarannya!’ Silakan kau percaya jika kebenarannya ada. Ya, bukti, Kawan. Bukti! Bisa kau lihat, kau dengar, kau rasakan, dan… ya aku rasa kau bisa simpulkan sendiri seperti apa bukti itu. Tidak harus besar, tapi jelas harus nyata.
Seumpama kau menemukan ada dua orang yang bertikai hanya karena sebuah koin lima ratus rupiah, apakah kau akan diam saja dan tak melakukan apa-apa? Lima ratus rupiah memang sepele, Kawan. Sangat sepele. Tetapi apakah dua orang manusia itu sepele? Mereka besar. Kuat. Berakal. Dan, kau tahu? Kadang mereka licik. Tapi sudahlah, toh membicarakan sifat buruk manusia, itu artinya membicarakan sejelek apa kita sebenarnya.
Kembali pada dua orang yang bertikai tersebut. Kau akan mendiamkan mereka begitu saja? Kau yakin? Mereka penuh emosi, Kawan. Dan emosi, kadang bisa menggelapkan mata mereka. Di kala emosi, seketika itu juga, manusia lain di hadapannya bisa menjelma binatang najis yang halal untuk dimusnahkan. Kau membiarkan itu? Membuat satu jiwa melayang hanya karena kau menyepelekan pertikaian itu. Kau terlalu terfokus pada uangnya, Kawan. Bukan pada manusianya.
Bukankah manusia lebih berharga dari materi yang sering kita cari? Ya. Lantas mengapa manusia sering terabaikan hanya karena jumlah harta? Kau tahu? Kaya tak menjamin bahagia. Percaya padaku, semangkuk es krim yang telah mencair akan bisa membahagiakan seorang anak yang hidup dari keluarga miskin ketimbang mereka yang terbiasa hidup kaya. Lihat, kebahagiaan itu sebenarnya begitu murah.
Kebahagiaan itu tentang hati, bukan materi. Sayang, kadang kita hidup dalam gengsi yang begitu tinggi. Hati kita dipaksa untuk puas pada sesuatu yang sebenarnya terlalu tinggi untuk kita capai. Hingga kita memaksanya. Padahal, aku ingat apa yang dikatakan salah seorang temanku, “apa yang dipaksakan, hasilnya tak akan pernah baik.”
Oh tidak, mengingat kata-katanya, berarti aku terpaksa mengingat siapa orangnya. Ya, karena memang begitu pikiran itu berjalan. Akan terus menghubungkan dari satu hal, ke hal yang lain. Kadang mereka tak berkaitan, tapi memiliki kesamaan. Ya, aku tak mau pura-pura, kadang apa yang kulakukan sekarang, akan kusamakan dengan apa yang pernah kualami sebelumnya. Seperti sekarang.
Jera? Tentu saja tidak. Ada saatnya memang kita akan mengingat, Kawan. Tidak, tidak. Meskipun berkali-kali kau terjebak dalam situasi yang serupa, bukan berarti kau harus mati dan berlari. Kita adalah manusia, dan diciptakan untuk bertahan. Bukan hanya bertahan dari dinosaurus dan kelaparan, tapi juga ingatan yang menyakitkan.
Kuatlah, Kawan…
Karang Mulya,
06 Agustus 2012
22:59